Lawan Mati Demi Lapar
Begitulah kira-kira adagium para buruh di lereng gunung Ijen. Mereka berani mengais belerang yang baunya apek dan menyengat hidung meski sesak yang menimpa. Hidung mereka jarang tertutup masker padahal asap yang keluar dari cerobong banyak mengandung karbondioksida. Mereka hanya bisa menggigit kain basah demi menepis secuil asap. Tak bisa dibayangkan. Bagaimana jadinya, saat tubuh mengosumsi karbondioksida!
Paru-paru manusia lebih kondusif untuk menghirup oksigen ketimbang karbondioksida. Sebab hal ini bisa mengakibatkan infeksi saluran pernafasan (ISPA) yang akhirnya menimbulkan berbagai penyakit, seperti bengek/asma, batuk, alergi hingga tubercolosis/TBC. Tapi semua itu mereka tak hiraukan. Yang ada dalam benak mereka hanyalah anak dan istri mereka bisa makan sebagai jalan bertahan hidup. Seperti yang diucapkan Pak Boediono, salah satu teknisi cerobong belerang di gunung Ijen, “kita bekerja di sini demi bertahan hidup meski taruhannya nyawa.” Sungguh mulia tekad dan hasrat para buruh belerang. Walau di sisi lain, mereka tahu bahwa umur mereka tak lama lagi dan tentunya kesehatan mereka tak bisa dipertaruhkan untuk mengais reseki dari belerang. Baginya mati karena lapar adalah penghinaan terhadap diri, lingkungan dan agama (baca: Tuhan).



