Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juni 2012

Esai


Menikah Itu Dosa


Satu malam hening serta bisikan angin dingin, teman-teman akrab saya bertutur kisah tentang pernikahannya. Katanya, menikah itu pahala, anugerah, dsb. Tak pelak dari mereka menunjukkan suatu raut yang amat bahagia bahkan bangga, bahwa menikah adalah proses pen-dewasa-an diri terhadap lingkungan. Pula, sebaliknya bagi orang yang belum menikah terklasifikasi sebagai “bocah” {batokne pecah (falsafah jawa): pikirannya pecah}.
Berbicara bocah tentu akan menuai bias makna. Kata bocah dianggapnya masih kanak. Di mana pada fase tersebut ia masih belum menemukan jati-dirinya, eksistensialisme. Ia hanya suka bereksplorasi bahkan mengeksploitasi atas diri dan tubuhnya. Ia berani coba-coba terhadap sesuatu yang bahaya pada dirinya karena ia masih belum berpikir jernih. Maka dari itu, di fase tersebut peran orang-tua sangat berarti dalam kehidupannya, sebagai stimulasi atas diri dan kehidupannya.

Selasa, 15 Mei 2012

Anak, Muara Bahagia

Gambar ini diunduh dari http://www.family.ghiboo.com
Cukup menarik membaca warta; “Belanda Juara Dunia Mendidik Anak” di  Radio Nederland Wereldomroep (21/03/2012). Yang mana peran orangtua telah memberikan kontribusi optimal bagi perkembangan anak dalam menyalurkan cipta-rasa-karsanya. Seperti laporan utamanya, peran orangtua bukan lagi sebagai hakim di mata anak. Ia tak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Justru ia lebih arif-bijaksana dalam berkomunikasi. Sengaja menyejajarkan statusnya. Anak diajak berkomunikasi dalam memecahkan segala problema yang dialaminya. Dalam menanamkan nilai kesadaran dalam tiap perilakunya. Menumbuhkan refleksi dan kontemplasi atas perilakunya. Bahkan dalam warta itu, Ido Weijers, Pedagog dan Guru Besar Perlindungan Anak, melihat perubahan besar dalam mendidik anak. Tak ada lagi otoriter maupun radikal bahkan menjustifikasi. 

Sabtu, 18 Februari 2012

Esai

KURBAN DAN CINTA 

Dongeng suci Penyembeihan Ismail menjadi muara inspriasi dalam menuaikan ibadah suci kurban (Id Adha). Hari raya besar kedua bagi muslim setelah Id Fitri. Kurban merupakan prosesi suci dalam mengimplementasikan eksistensialisme, baik vertikal maupun horizontal, pula memiliki nilai simbolik reliji.
Di samping itu, prosesi kurban bagi muslim memunyai nilai etis dalam pemotongan hewan kurban. Alhasil hewan kurban yang hendak disembelih haruslah sehat/tidak sakit, gemuk, dan tentu tak memiliki cacat secara fisik. Perihal ini berkaitan dengan adab/etika dalam penyembelihan. Lantas keterkaitan dengan romantisme. Apa perlu pengorbanan atau sekaligus menyuguhkan ku(o)rban dalam menjalin romantisme! Dari prosesi Id Adha kini kita bisa memetik pelajaran bagaimana seharusnya kita berkurban untuk seorang yang kita cintai.   

Senin, 29 Agustus 2011

Esai

STIMULI IDUL FITRI
 oleh: Adi Winarto
“Penyesuaian diri terhadap harmonisasi ilahi merupakan penyebab adanya dunia. Tidaklah benar jika dikatakan bahwa dunia aktual menampakkan adanya keteraturan secara kebetulan. Dunia aktual ini ada, justru karena keteraturan (keseimbangan).”[1]
Pernyataan di atas, merupakan konsepsi Ilahiyah bagi alam semesta. Tak terkecuali. Dan tak bisa dipungkiri, momen Idul Fitri, kali ini, adalah jembatan keteraturan bagi umat muslim di Indonesia dalam memupuk integritas kebangsaan. Sedangkan puasa dan zakat fitrah adalah ritual induksi dalam menyambut hari raya Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Menang secara lahir dan batin setelah berjuang (dedikasi) dalam menahan lapar, haus, gejolak syahwat serta aksi yang mendorong kemungkaran dan menimbulkan kemudaratan sosial. Di sini, hari kemenangan bukan hanya milik umat Islam melainkan kemenangan sosial. Yang mana,  hari fitri, kali ini, bertepatan dengan bulan Agustus yang menjadi tonggak sejarah dalam kemerdekaan bangsa ini.  Pada bulan ini seluruh masyarakat Indonesia telah merayakan HUT RI 66 serta hari kemenangan umat Muslim.

Senin, 06 Juni 2011

Esai


Lawan Mati Demi Lapar
Begitulah kira-kira adagium para buruh di lereng gunung Ijen. Mereka berani mengais belerang yang baunya apek dan menyengat hidung meski sesak yang menimpa. Hidung mereka jarang tertutup masker padahal asap yang keluar dari cerobong banyak mengandung karbondioksida. Mereka hanya bisa menggigit kain basah demi menepis secuil asap. Tak bisa dibayangkan. Bagaimana jadinya, saat tubuh mengosumsi karbondioksida!
Paru-paru manusia lebih kondusif untuk menghirup oksigen ketimbang karbondioksida. Sebab hal ini bisa mengakibatkan infeksi saluran pernafasan (ISPA) yang akhirnya menimbulkan berbagai penyakit, seperti bengek/asma, batuk, alergi hingga tubercolosis/TBC. Tapi semua itu mereka tak hiraukan. Yang ada dalam benak mereka hanyalah anak dan istri mereka bisa makan  sebagai jalan bertahan hidup. Seperti yang diucapkan Pak Boediono, salah satu teknisi cerobong belerang di gunung Ijen, “kita bekerja di sini demi bertahan hidup meski taruhannya nyawa.” Sungguh mulia tekad dan hasrat para buruh belerang. Walau di sisi lain, mereka tahu bahwa umur mereka tak lama lagi dan tentunya kesehatan mereka tak bisa dipertaruhkan untuk mengais reseki dari belerang. Baginya mati karena lapar adalah penghinaan terhadap diri, lingkungan dan agama (baca: Tuhan).

Selasa, 12 April 2011

Esai

GENERASI PORNOGRAFI

Sumber Foto berasal dari Yek Timor Sunandar (Jember, 26/02/2011)

Oleh: Adi Winarto


Cukup mengenyak dengan berita bocah SD menghamili gadis umur 15 tahun tetangganya sendiri, serta tukang kebun, dengan akal bulusnya, membujuk anak SD untuk bersenggama (Radar Lumajang,09/02). Adalah gadis (baca: feminis) selalu menjadi korban/tumbal hingga kasuistik ini sering muncul di pelbagai media massa. Ada apa dengan semua ini? Mengapa kaum feminis selalu menjadi tumbal nafsu kaum maskulin? Apa mungkin ini ‘dosa awal’ manusia seperti yang diasumsikan Naomi Wolf dalam karyanya yang fenomenal; Mitos Kecantikan? Atau (jangan-jangan) kaum feminis sengaja tercipta untuk memantik nafsu liar kaum maskulin?
Lepas dari itu semua, Bunda hawa tercipta sebagai pasangan Adam dalam mengarungi kompleksitas bumi, sebagai stabilitator peradaban manusia di muka bumi. Diakui atau tidak, tanpa Hawa peradaban manusia di muka bumi takkan menorehkan sejarah emas bagi para penerusnya. Meskipun roda peradaban manusia sering menumbalkan keturunan hawa (baca: feminis) ke jurang inferior. Yang mana, wanita selalu menjadi objek dari subjek sosial itu sendiri. Dalam arti, kaum feminis merupakan alat reproduktif manusia (melanggengkan sejarah)  namun kerap kali menjadi tumbal kebiadaban kaum maskulin atas nafsu seksnya.


Sabtu, 25 Desember 2010

Esai


Refleksi Hari Ibu ke-82 (22 Desember)
Ibu, Islam, Bangsa
Adi Winarto

Pernahkah membayangkan, seandainya Hawa tak membujuk Adam untuk memakan khuldi di surga? Tentu dunia mengalami absurditas. Tak ada dinamika dan harmonika alam semesta. Tentu tak ada kehidupan bangsa manusia dan seisinya. Namun, perlu diingat, aksi Hawa bukan ‘sebuah kejahatan’ dalam membujuk Adam, melainkan reifikasi[1] yakni membuat nyata sesuatu yang sebenarnya abstrak. Dalam arti, aksi Hawa bukanlah malapetaka, melainkan berkah dari Tuhan supaya mereka bisa menjalankan sisi kemanusiaanya di dunia (al insan al khatta’ wa al nisyan).  
Di sisi lain, Hawa (feminis) bukan biang keladi dari sebuah (muasal) kejahatan di muka bumi ini, seperti yang dititahkan para semitisme radikal atau konservatif. Bahwa perempuan merupakan biang fitnah atau pemantik ke liang neraka hingga akhirnya—kini, perempuan selalu mendiami kaum kelas 2, inferior, sesudah garis laki-laki (paternalis atau patriakh).
Padahal kalau ditelisik, bahkan dijuntai untuk menemukan pangkal sarinya, perempuan merupakan balancer dalam kehidupan kita. Adam yang diturunkan Tuhannya ke muka bumi ini mampu menemukan pangkal cahaya (al nur al tharaf) dalam menjaga keseimbangan dunia (rahmatan lil ‘alamin). Sehingga bumi bisa dikebaki manusia hingga kini.

Selasa, 09 November 2010

Esai



M E L I S S A*
(Sel-Sel Feminisme pada Gadis Kecil)
Oleh: Adi Winarto
Melissa senang berkaca pada cermin. Suka melihat seksi tubuhnya. Bersih dan mulus seperti embun terpatri matahari. “Aku suka dengan tubuhku. Milik siapa tubuhku ini,” gumamnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menindih benaknya. Dan Mellisa mengidamkan seorang pria yang menyintai tubuhnya. Menyayangi tubuh Mellisa yang sintal dan mulus. Saking sintal dan mulusnya, bisa-bisa benda yang tertempel akan tergelincir dan jatuh ke tanah. Lalu tibalah musim panas. Melissa menemukan lelaki yang membimbingnya ke dunia abu-abu. Dunia yang membuat seorang dewasa dipenuhi (m)impi. Dunia penuh tipu muslihat. Melissa bertemu Daniele. Cowok idamannya. Ia mengajak Melissa pada dunia abu-abu. Dunia yang selalu ini diimpikan oleh Melissa. (Bahkan dunia yang diimpikan oleh banyak kalangan saat remaja-dewasa). Daniele pemandu Melissa untuk mengarungi dunia abu-abu itu. Tetapi, setelah Daniele memandunya Melissa baru tahu realitas dunia abu-abu itu. Melissa sadar. Dunia abu-abu itu membingungkan. Sebab abu-abu tercipta dari campuran warna hitam dan putih. Ganjil. Tapi esensial. Semuanya itu bermula dari sikap Daniele. Di sela-sela mereka menjejaki dunianya, Danielle sempat berucap padanya; “kamu idiot dan dungu.” Ia diangggap gadis kecil. Belum cukup umur untuk menjejaki dunia abu-abu. Naif. Ia masih berumur 15 tahun. Ada sesuatu yang menggodam hatinya. Amat sakit. Sesuatu telah menyorek hatinya; sembilu. Bahkan Melissa dibutakan oleh warna abu-abu. Hingga Melissa harus berani dan nekad masuk dunia abu-abu. Bersenggama dengan siapa saja. Terpenting, ia bisa menyabet terminologi ‘dewasa’ dari mulut pria. Malahan Melissa sering menulis dalam diary-nya: ‘mulutku adalah hidupku.’  

Senin, 23 Agustus 2010

Esai


BUTIR-BUTIR PEMIKIRAN TENTANG
KELANGSUNGAN HIDUP BUDAYA PERANCIS DAN BUDAYA MADURA DALAM PERSPEKTIF KOMPARATIF (Perancis-Madura)1

Oleh: Jean Couteau

[Amatlah sulit membandingkan situasi—dan tantangan-tantangan—yang dihadapi masing-masing kebudayaan Perancis dan kebudayaan Madura]
Kebudayaan Perancis telah lama didukung oleh suatu negara yang merupakan salah satu induk dari kebudayaan Eropa, bersusulan atau bersamaan dengan Yunani, Italia, dan kemudian Jerman dan Inggris. Bahkan boleh dikata bahwa dari akhir abad 17 sampai dengan awal abad ke-20 kebudayaan Perancis merupakan kebudayaan dominan di Eropa dan hadir mengemuka di dalam semua bidang kegiatan kultural: sastra, teater, balet, seni rupa dan filsafat. Bahkan hingga kini pemikir-pemikir Perancis menempati posisi yang utama di dalam sirkulasi ide-ide dan fashion-fashion internasional. Posmodernisme misalnya lahir di Perancis; orang-orang seperti Foucault, Baudrillard, Lyotard, Derrida dan Bourdieu adalah orang yang menulis dalam bahasa Perancis.

Senin, 09 November 2009

Esai

MEULAH JUBUR SIGA JALAN
Oleh; Adi Winarto (De Nawar)


Kini, setiap kita menyalakan televisi maka kita aka menemukan banyak acara-acara yang mengulas masalah pribadi. Semisal infotainment yang mengabarkan perceraian pesohor, acara ‘Reality Show’ yang sering membeberkan perselingkuhan dan konflik rumah tangga. ‘Talk Show’ lepas tengah malam membahas urusan tempat tidur seperti acara ‘Masihkah Kau Mencintaiku’ bahkan peserta acara tersebut, berani buka-bukaan masalah (pribadi) keluarganya di muka ke-dua orang tuanya dan penonton. Hebohnya lagi, adalah ajang percarian jodoh atau yang lebih kita kenal dengan acara ‘Take Me/Him Out Indonesia. Dan program tersebut banyak digemari oleh pemirsa ketimbang acara-acara lain.
Dalam hal ini acara-acara itu merupakan sebuah fenomena yang janggal dalam kehidupan kita. Seperti kita tahu, yang namanya urusan pribadi merupakan kunci dari jati diri kita. Pada zaman kakek-nenek kita dahulu, yang bernama aib (negatif) wajib dijaga betul oleh setiap pribadi sebab hal itu merupakan sesuatu yang tak pantas diberitahukan kepada orang lain, bahkan harus disimpan dengan baik dan benar. Berbeda dengan zaman modern sekarang, urusan pribadi bukanlah hal yang bersifat sakral lagi. Dalam arti, secara konotasi, bukan sampah melainkan telah menjadi camilan bagi siapa saja. Terbukti dengan berita gosip, isu, rumor telah menjejali pelbagai macam media.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Esai


Ajaran Yesus Tentang Puasa*)

"Jangan membanggakan diri karena berpuasa," sabda Yesus—di tengah-tengah pengikutnya orang-orang Farisi—saat memberikan petunjuk untuk alasan utama tentang puasa, seperti dikutip dalam Alkitab, "Jika Anda pergi (keluar) tanpa makan, jangan tampakkan murung seperti itu. Saya yakin Anda sudah memiliki pahala". Pada waktu itu orang-orang Farisi yang berpuasa pada hari Senin dan Kamis, yang merupakan hari (pasaran) sibuk dengan segala aktifitas, supaya puasanya dapat dilihat oleh orang. Puasa yang dilakukan oleh banyak agama dan telah menjadi tradisi untuk berbagai etnis di seluruh dunia. Ajaran puasa juga banyak dilakukan oleh orang Kristen sekarangpun. Sebagai nilai-nilai (esensi) yang pada dasarnya adalah bersifat universal, karena itu ajaran tersebut memunyai titik kesamaan dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad tentang puasa di bulan suci Ramadan. Islam mengakui Yesus sebagai nabi, kami juga dapat belajar dari agama lain pada substansi puasa. Yesus berkata, "Tetapi, sisirlah rambut Anda dan mencuci muka. Kemudian orang lain tidak akan tahu bahwa Anda akan pergi tanpa makan. Tetapi Bapamu melihat apa yang dilakukannya dan dia akan memberikan penghargaan kepada Anda." Di sisi lain, Nabi Muhammad berkata, "Setiap kebaikan adalah imbalan yang sama dengan kebaikan 10 hingga 700 kali lebih banyak, kecuali puasa. Puasa adalah untuk SAYA dan SAYA akan memberikan pahala." Secara alamiah, dua agama yang berbeda, juga konsepnya dan cara-cara puasanya. Luarnya berbeda, yang paling penting adalah bagaimana untuk merenungkan puasa untuk mampu mempengaruhi karakter kepribadian serta transformasi mental dan spiritual.

Esai

SEPIRING NASIONALISME

Do’a Kaum Proletar
Oleh; Adi Winarto
Sebagian warga sudah melaksanakan ritual menyambut hari kemerdekaan negara yang ke-64. Mulai dari kegiatan menyambut hingga hari H. Serangkaian lomba, pawai, karnaval dsb sudah menjadi tradisi dalam menyambutnya, hingga pengibaran sang saka “Merah Putih” sampai penurunannya. Lantas, apakah peringatan hari kemerdekaan RI hanya sebatas itu saja? Apa tak ada lagi yang (perlu) digali dalam memaknai kemerdekaan yang sudah melampaui setengah abad? Pertanyaan ini bukan lahir dari seorang putra pahlawan besar, tokoh bangsa, ataupun elite bangsa ini. Pertanyaan ini lahir dari anak desa, yang hidupnya di kaki gunung, namun saat remaja (mungkin juga beranjak dewasa) pernah tinggal di beberapa kota besar seperti Surabaya, Malang, Jakarta, Bali, Palembang. Dan kini hidup di Jember sebagai anak jalanan. Pertanyaan di atas mungkin saja dianggap berlebihan (bisa pula sampah), oleh beberapa kalangan (hedonis, kapitalis, neo-marxist). Apalagi bagi mereka mengatasnamakan dirinya “Mahasiswa.” Mungkin sudah banyak lupa/alpa dalam menggali makna nasionalisme. Apalagi para pejabat yang telah memangku kekuasaan diberbagai sektor. Mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi bahkan pusat. Buktinya, bangsa ini semakin mengalami masalah yang amat pelik. Masalah bangsa terus bertambah, serasa penyakit akut saja. Bisa pula dengan umur ibu pertiwi yang sudah tua renta (ah, tapi metaforis belaka). Marilah kita tengok sejenak di sekitar kita. Masih banyak adik-adik kita yang mengais rezeki demi sesuap nasi hingga masa kanak mereka digadaikan atas segumpal harapan. Saban pagi yang biasanya digunakan untuk mencari ilmu dan bermain, malah peluh kuning menempeli tubuhnya yang lusuh akibat berjalan kaki, mencari tangan-tangan dermawan. Walaupun—di sisi lain—anak-anak jalanan terlahir dari sebuah serikat/tim, yang sengaja dibentuk oleh perorangan, dengan otoritas bisnis. Apa bisa bangsa ini disebut (dielu-elukan) bangsa/Negara yang merdeka? 

Selasa, 10 Maret 2009

Esai

GUÒNIÁN
[This article was published at the Unars magazine; Students Press Agency of Abdurahman Saleh University—as cultural rubric, written by Mohammad AW /Adi de Nawar.]
A month ago (25/01/2009), when I attend cultural event, with Romo Yudi and Romo Agustinus Lie, at the "China New Year 2560," also people who meet Christians, at Sari Utama restaurant, Jember, East Java. There’s something impression message needs to know reflected at a foreign culture (Tiong-Hoa/Konghucu), which is the archipelago have cultural diversity. On the other hand, kinds of culture, we have not separated from the role of ethnic pluralities, classes and races, can not be denied, personal regardless—somehow differences in the faith-belief, race, race, etc.—culture is one of the elements (terms) of development and build a civilization country, that’s able to build respectability, solidarity, integrity. Despite our (more) culture have arbitration and erosion. Ironically, the various elements of society do not realize it. Of course, about culture have some glorious reflection, it is capable of bringing behave enlightenment (aufklarung) in a certain attitude and its fundamental constructing principle of value-humanism. As well as, the contention of the sociologist: Allport, Vernon, Lindzey, in Studies of Values (1951), which identifies the six basic values in the culture: the value theory (gist), economic, aesthetic, social, political, and religious. But modernism has many intoxicated, even blind, (re) generation of the nation. For example, the local language (Madura/Java) is to be 'alien' for the urban populated, while the foreign language (English/Arabic) even became the idol, pride. Not excluded by the role pedagogical vandalistic of culture, itself, with local lessons is denied (local language), but not mean—we (re)generation should decline as a foreign language (function) is the language of media universe. Ironically, the younger generation has no nation of the culture, because west-culture has been sporadic (trend-mode) through mass media, massifs. Modernism often months buzzed by the youth (in) as the event—interaction—cultural of present, to a born 'katrok' (conservative); called for young people ancient—which is still subject to culture. The opening results of research on the Indonesian society is up to date, including from: Hans-Dieter Ever (2000), Robert Hefner (1999, 2002), Niels Mulder (1999, 2000), Donald K. Emerson (2000), Hans Antlov (2000), Hens Schulte (2002), James Siegel (2001), appeared to have diffuseness in our culture, caused by factors individualist, materialist and capitalist, the eliminated-unity and aspirations will bear polarity. In fact, the looseness manifestation cultural, ignorance of quintessence by a culture. And only in-cultural a (to) culture (an) will remain tenacious (solid).

In-cultural Religion
At event, Romo Agustinus deliberately, in-cultural themes in the worship of the Christians—Tiong Hoa—, Misa Imlek, as place for implementation. Where a culture be exalted. However, a culture does not appear to be noble when implements (men) do not have the decency, benevolence, righteousness, agility and good heart, all that is known as "The Essence of Ren." If the teachings of Islam better known by the term al-insal bil akhlaqul karimah (see QS. al-Baqorah: 83, al-Furqon: 72, an-Nuur: 33, an-Nisaa ': 105). Term or the more we know, for indigenous people, is' tatakrama '. Indeed, such in-cultural which run through religion is often labeled as the left (the devil), especially by the fanaticism and orthodoxy. A few samples, such as ritual ' sea-quotation ', (petik laut) which became a tradition for the coast or a person living as fishermen, ritual is considered the polytheist, deviationist, even paganisms (unbelievers). Indeed any, of such assumptions is a shallow/blind, and for fanaticism orthodoxy. If we are able to construct ritualize, mediation is not another human being with the universe, even with the creator. Although those rituals do not know about the essence. So modernism should be able to produce, such constructing for next regeneration of this nation so that it is able to maintain a culture, because culture itself is a shirt for humans; as characteristically moment. However, controlling in-cultural of confidence (faith), which is religion, even though the teachings, the birth of conservatism. According Supomo, conservative (ism) views of a culture was formed by the teachings of Islam at that time and the education system is covered by Dutch Victorian system. Likely, when the Law on Pornography collided with a diverse culture: down to the middle class (rural), which is not of education, culture and indigenous endangered. As in Bali, Hirschfeld found, without exception, female adults and adolescents be naked chest to navel, while the small-naked women. Dr. Kruse, Germany doctors, practiced in Bali, only the prostitutes are close to their chest hair and a sense of entrap men although opinion is necessary for further test accuracy. Also, in addition, many cultures of this nation and the literature concerning a sexual activity, attitude openness towards sexuality that is also visible from traditional arts community that can still be witnessed at this time. Tayub, ronggeng, dombret, jaipong, kecak, etc. that erotic movements hip exploited, (fruit) chest, and clearly visible buttocks.

The Cultural Essence of Collision
The difference of attitudes toward cultural essence can not be a similarity in attitude, at archipelago is a diverse culture. Moreover, with the essence of culture is able to bring two citadel; conservative and moderate, as values, norms, understanding (epistemology) constructed in culture. And do not immediately call (energizer culture) with degradation jargons; morality and confidence. But needing for those of special cultural, pedagogical, activists, students and even the whole society, the ontology’s, epistemologies and so capable axiological project themselves as a "culture of community." A little excerpting of Ibn Rushd, if you want to feel sweet dates, do not see merely, but taste and feel it. So that, I deliberately overlooking the word "Guónián" (as the title), that means long years have passed, but not a mere ornament or bugbear the past, but as a contemplation on the existence (self). Which, the past is the embryo (early up) a historical civilization. And as humans, the past is a very valuable lesson. Analogically, culture able to represent past civilization (of life) to the life at this time, forwarding serve such a light in the life at this time. With in-cultural on science and religion-confidence, era of modernism, will be able to overcome depressed our cultural, at this time. Moreover, the heart of globalization (United States) has been cast out, even silent throughout the country in the world, local pop culture / traditional programs through American television, music, food, and dressing, films, such as the United States disclosed critics; Fredkie Jameson (2008). So, as parent, it is able to preserve the abundance culture of mother reveal. Save my words, any form of in-cultural, although the cultural collision, not a demon is capable of totally ruined morality and integrity of the nation, but a glass that is able to catch the reflection of ourselves. The communities are able to project themselves in accidental, as caliph (leader) who always keeps a peace of God on earth. ***

Esai

'Valentine Day Reflection'

STANDING ON VALENTINE'S DAY


The previous month (14 February 2009) at the corners of the city, malls, public places, garden, pink color appears to be decoration, such as beautifully, different day as usual. In connection with it, warning days affection or a more popular term known as the valentine day. Many young people who celebrate with various kinds of ways; giving flowers or chocolate for the car driver for free (but rarely), beloved friend and familiar. Even some young people, who have to spend a night at the discotheque. Once it's ironic, day (valentine) should culminate with a world-hedon which made young people (in) urbanism, that is not wasteful, mubadzir.
Generally, the day you applied a lot of affection in the wrong format ¨salah-kapra,” wrong. Hedonism into jewelry in the valentine day. Of course, the day is just a love of action is appropriate only on February 14, after the days (stay) just to be decorator almanac, and mind, for the perpetrators.
In fact, the warning valentine's day this is a culture of the mushroom in the world to remember the historical events, which came of the youth St. Valentinos. He lived during emperor Claudius II, the Roman. At the time, the emperor Claudius II thought the young man not yet married as more brave soldiers of war. Because, he forbade marriage for young couples war. But what has happened. Valentinos broken it, a collision rights and justice have been seized. Rather than, he violated the decree and the emperor again, he gallant-wed couples young couples make, undisguised. Heared the emperor Claudius II get mad and ordered the functionary to execute Valentinos. Since that is the death of newspapers Valentinos coinciding with tangggal 14 February 270 BC, reincarnate as white dove flying in the air, by bringing the message of love, that date is defined as a valentine's day, affection day.
In fact, historical traces of the world, before birth Valentinos have a line of leaders who teach the meaning of affectiveness such as Sidharta Gautama, Jesus, Muhammad, Lao Tse. But why their teachings, is considered normal. In the sense, only celebtrate (mystical-religious) for a followers, not for the audience. Namely, they indicate as a priest (leader) in the teachings sprituil or religion. However, it does not mean they are different in practice and interpret the meaning of love.
Trying our habituate briefly around us, many of us who celebrate a desire to meet the pair, and (as) trend modernism. Here was born in what is called the competitive individualism that is not restrained, as Sexenian theory in his book, Regional Advantage (1994).
In the days, meaning love—we as human beings, should be the expectation affective among, especially equality of rights and justice are often indication, Valentinos as taught in socializationed to community. Moreover, justice and the rights of the nation often abstracts, by the capitalists, the bureaucrats who hypocrite, the man alone already forget about the surrounding natural forests to be barren and forest often cut off in order to appetite. So, where the teachings of Valentinos in seed affection to the people and its contents?
We know many of the nation is experiencing degradation of morality lead to people not guilty succession to bear. For example, nepotism reign, fertilizers farmers hard obtained, cost of education more expensive and only the capitalist who achieved entitled, to the destitute must depressed of the economy, that more and more serret, difficult. The bureaucrats and politicians nudges for, their own, mutual ambition and success. Poverty result at riot, more sporadic outbreaks of disease, crime increases, flooded, landslides and earthquakes have become a habitual problem for the country.
Dus, whoever—I love to plant on all surely fruit (seed) that peace and prosperity (roughly, that's the expression that fit) to the phenomenon of this nation who never graduated. Analoginya, phenomena that occur due to human action as itself. Kausalitas and the applicable law. Borrowed the expression Akutagawa Ryunosuke (Japanese writer), at Kappa book (1972): we love nature because nature does not envy or hate us.
Occasionally, adagium on the glass to be understanding means of love. Treading and practicing in a way, that’s full of holes, stones, wild animals or the dark, so the atmosphere of our lives to be able to guide the light of peace and prosperity, and able to plants meaning of love in sociliazation. And as the word WS. Maughaam (1874-1965); tragedy of life is not the main man perish but that they stand for. Save your words, love, afectiveness, love is not enough to practice in valentine day, but how to implement the act in-horn, day after day, even on the day-to-day until death or the next pick. So reserved, and a sense of intention august, still radiated in shoulders with peace and prosperity in this land of God, which is always primari for existence.***

Selasa, 13 Januari 2009

Esai

WHY ISRAEL ?
Israel is gathering storm, it still shows barbarian attitude towards to the values of humanity, which should be a high-thought, in the Gaza boundary line, as if power— even arrogant—take away to the threshold of success, the strength of Hamas to conquer, so the Zionist troops are occupying to the heart of the city Gaza, with a bomb, Sunday (4/1). And the aggression is noted as the largest in the area along the "Lebanon War" since 2006.
In this case, the aggression of Israel can not be forgiven again. For land, it aggression must be paid in an expensive (by Israel) with local people, where children have to hysterical screamed, fearfully, with the profanity, and even have lost both parents, because of Zionist aggression. Many people scattered, a difficult for knowing-identify, and dozens of people injured. Also, the economical sectors are deflation experiencing; even threaten a stability of peacefulness.
The people are still not capture to this phenomenon. Demonstration, every where, that criticize for Israel held in the countries of the world, included Indonesia has sent delegated. In addition, the reinforcement; materials and volunteers, people from various organizations and parties. In the meantime, there must be real steps in realizing peacefulness in both countries, not only keep the act of demonstration, which ultimately will not give vitals impact on the humanitarian and peaceful on earth. Ironically, security-council in the United Nations considered slowest. What’s up?
Bush and Obama
While Bush still occupies the position President of United States, he issued a statement said a repressive and always to share allies, against Palestinians, especially Hamas stronghold, that the Hamas has spread a terror(ism) to the world. Related, Bush is not leaders who are able to be changes and shows new wind of peace in the Middle-East. Thus, it is stabilizing unite the world community about the origin currycomb Bush is in it, because the aggression of Israel, the rat is a way for Bush, in prestige rescuing—able—achievement as a former United States president, and to eliminate negative-stereotype Bush (mastermind of people) this turmoil in the world eyes. Of course, it is a magical Bush agenda, directly.
So, how the role of state super-power leaders, at present, has a largest-role at peaceful of agenda in the world? Barrack Obama elected President even be silent with this phenomenon. What Obama leadership may not escapes from the shadow Bush? In fact, long distance, the presidency of super-power has a large role (charisma) in the body of the United Nations. But, why there’s no actor and action in solving this problems, concretely? Or the Jerussalem—influential—accordance with K. Armstrong.
Indeed, the world is too excessive when people of the world waiting to see the role of Obama to case of Israel's aggression. Obama should virus nursery peacefulness to the community. Be pitied, Obama still quite—with thousand languages—in the Israel aggression against Gaza as if silence is golden have become jargon. Or, perhaps, Obama is too sure for campaign with the motto, which is always propagandize, be able to succeed and president of the United States as the first president of the black. "We change. We can."
Further away, the world (especially the leaders of countries) should not wait for the act or the action of the idol (Barrack Obama)—perhaps conspiracy, but must be coupled hands with each other and urged the United Nations must security-council of United Nation sprightly and quickly; make decision. And not longer need to moment "criticism" because humanism has lost for the sake of political Zionist.
Manifestation Politics
The demographics, populated of the sand (East-Central) have stigma; anti-Jewish. Obviously, the history still bleak, which is a war going on at the area was dominated by each other, neighboring countries. Start from the crusade to Israel-Palestine at this time. Even in reference Semitic religion (al-Qur’an-Gospel); Zionist is specter that their lives will always damaged. But, keep in mind-religious reference is not a destiny, or provisions of his, but representation in the social interaction and culminate humanist-implicated. What should be processing for peacefulness???
Than—of course—religious reference should be detail reconstructed because war is going implementation of politics of Israel-Hamas a jog each other, in order to strengthen the country (of power) in the Palestinian areas. In the meantime, the religious / priest, the leader of the country and even the United Nations must find the right solutions in war manifestation both parties, precisely the political reach and power alone, possibly, a recognition of both parties (Israel-Hamas) for the world. So, it time’s not “investigate playing” each others, but how to create a humanistic sporadically the world. And of course, the people of the world take part its. Bringing together both parties to conduct negotiations or dialogue even has already done many times. Or peace in the Middle-East peace will not happen forever, for justice is never-thought by members of the UN, for the Aristoteles (384-322 BC): "for organizing the peace more difficult than to win from the war." Or we'll just have to be spectators of the Cinema 'died-tragedy,' and as counter; how many victims will fall again? ***

Esai

Demokrasi dan Kebebasan Berbicara: Munculnya Konsensus

Perdebatan atas kebebasan berekspresi telah mengalami perjalanan yang cukup lama, di di Indonesia sejak zaman Orde Baru, dengan asas demokratis. Tempat lain di Asia Tenggara, hal serupa dengan jelas dalam isu-isu politik yang sedang berlangsung secara masif. Perdebatan ini telah menjadi domain dalam lingkup domestik, yang tidak mengejutkan, mulai politik lokal dan akhirnya semua, internasional. Namun, ada sesuatu yang bisa didapat—dengan melacak—dari perkembangan global di bidang kebebasan berekspresi.
Sementara partikularitas, setiap masyarakat dapat membuat para warga merasa bahwa situasi mereka adalah sepenuhnya unik, indikatif dari globalisasi ekonomi dan teknologi-komunikasi yang baru dan paralel dan berpreseden di tempat lain. Perdebatan, secara menyeluruh, tentang peluang dan tantangan dari kebebasan berekspresi itu dapat memberikan panduan bagi masyarakat, yang sedang mencoba untuk menelusuri sebuah pilihan.
Baru-baru ini, kami memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari percakapan internasional pada topik ini. Pada bulan September 2007, kami adalah reporter informal untuk seminar tentang kebebasan berekspresi yang diselenggarakan oleh Asia Europe Foundation (ASEF) di Siem Reap, Kamboja. Bulan lalu, kami memulai kuliah di sebuah ASEF: saat tur ke negara-negara Asia Tenggara, bicara ke sesama akademisi, mahasiswa, aktivis masyarakat sipil dan warga negara lainnya yang bersangkutan di Bangkok, Jakarta, Kuala Lumpur, Vientiane dan Phnom Penh. Percakapan ini mengingatkan kita yang sangat mengherankan keragaman ini bagian dari dunia, tetapi juga dikonfirmasi pada ranah umum, yang telah kita amati pada seminar 2007.
Memang, salah satu kesimpulan utama dari seminar ini merupkan gagasan dari kebangkrutan di Asia Barat membagi atas prinsip kebebasan berekspresi. Sebaliknya, terdapat konvergensi jelas. Ini bukan untuk mengatakan bahwa ada konsensus di antara orang. Kontroversi terus mengamuk atas cara orang untuk menjamin hak-hak untuk kebebasan berekspresi seraya meminimalkan efek yang merusak kebebasan. Namun, perdebatan ini mungkin sebagai mendalam dan bergairah dalam setiap negara dan wilayah—apakah Asia atau Barat?—karena antara daerah atau peradaban.
Ada beberapa ide kunci yang melintasi batas-batas nasional. Pertama, adalah yang paling jelas bagi kebebasan berekspresi tidak hanya hak individu tetapi juga bahan yang penting untuk kemajuan masyarakat. Sangat penting untuk pembangunan. Baru kompetisi ekonomi global memerlukan sistem pendidikan yang terbuka dan memelihara pemikiran kreatif—tak dapat dipahami tanpa kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. Hal ini juga sangat diperlukan untuk demokrasi. Pemerintah tidak dapat benar-benar bertanggung jawab kepada masyarakat tanpa pengawasan dari media independen. Kedua, tidak ada kebebasan yang mutlak. Adalah sah untuk meminta individu dari kebebasan berekspresi harus dilakukan dengan cara-cara yang mempertimbangkan hak-hak individu lainnya serta kepentingan umum. Orang memiliki hak untuk melindungi kehidupan pribadi mereka dan reputasi mereka, dan tidak ada hak untuk menyuntik kebencian atau kekerasan. Standarisasi internasional membolehkan membatasi bicara untuk menegakkan ketertiban umum, moralitas publik dan keamanan nasional.
Ketiga, namun, seperti pembatasan sering disalahgunakan oleh pemerintah sah untuk memberangus bicara dan protes. Di seluruh dunia, jurnalis, blogger, artis dan lain-lain akan terus korban untuk pekerjaan mereka. Pembatasan pada ekspresi apapun harus melewati tiga ujian. Harus berdasarkan hukum daripada tindakan sewenang-wenang. Ia juga harus melayani, yang bertujuan dikenali sebagai hukum internasional—yang tidak termasuk kebutuhan untuk melindungi posisi mereka yang berkuasa. Akhirnya, setiap gangguan terhadap kebebasan berekspresi harus diperlukan dan proporsional, tidak seperti yang terlalu umum kecenderungan penguasa untuk terlibat dalam pembunuhan besar-besaran. Keempat, ada kecenderungan umum untuk memerangi rahasia oleh pemerintah untuk menjamin akses masyarakat untuk informasi resmi. Semakin banyak negara di Asia seperti di tempat lain memulai kebebasan informasi hukum. Perlu di ketahui "mendukung transparansi dan tata pemerintahan yang baik, dan konter resmi korupsi. Hukum telah diperkenalkan baru-baru ini, di Bangladesh dan Indonesia. Bahkan Inggris, dimana beberapa negara 'rahasia hukum datang, telah mencakupi prinsip terbuka, dan jelas (detail) dari pemerintah.
Kelima, adanya kesadaran pertumbuhan keterbatasan pasar bebas dan motif keuntungan dalam menyediakan jumlah dan kualitas informasi dan ide dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Dominasi perusahaan media harus seimbang dengan kebijakan pemerintah dalam mendukung keragaman media, termasuk media independent, yang melayanii masyarakat bawah dan media alternatif.
Akhirnya, ada pengakuan bahwa kebebasan berekspresi tidak berarti mengeluarkan negara, dari persamaan. Cukup Sebaliknya: yang diperlukan negara, menegakkan aturan hukum. Banyak negara di dunia, termasuk di Asia, penyensoran pemerintah bukanlah satu-satunya atau bahkan yang paling serius ancaman bagi pekerja media dan seniman. Tak menyukai bicara adalah sah, namun secara umum (rutin) diserang oleh kepentingan non-pemerintah—termasuk memantik kemarahan orang banyak—lalu faktor eksternal dan menggunakan kekerasan, berarti yang tidak setuju dengan siapa mereka. Pasal 19 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia—Desember, 60 tahun terakhir–memperkenalkan prinsip bahwa: "Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan ide melalui media apapun dan berapapun pembatasannya. "
Ini adalah waktu yang ideal untuk menempatkan ke dalam zona praksis. Meskipun masih jauh dari kenyataan yang ada saat ini lebih dari pemahaman pentingnya dan bagaimana hak-hak asasi manusia ini bisa aman bagi semua. Tidak ada satu formula, tetapi interaksi kami di seluruh wilayah meyakinkan kita bahwa orang percaya nafsu di mana hak mereka untuk berbicara pikiran.***

Artikel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh si empunya blog dan disadur dari Koran berbahasa Inggris “The Jakarta Post (07/01/2009)” pada rubrik Opini oleh; Kevin Boyle, Profesor Hukum di Universitas Essex, Inggris, dan Cherian George adalah asisten profesor di Sekolah Wee Kim Wee Komunikasi Informasi, Nanyang Technological University, Singapura.

Rabu, 31 Desember 2008

Esai


Koherensi Teologis: Idul Adha dan Natal Yang Berdekatan

Dilihat dari hitungan hari, Idul Adha dan Natal jatuh pada waktu yang relatif berdekatan: kurang lebih enam belas hari. Sebagai tradisi ritual suci, kedekatan Idul Adha dan Natal, seyogianya patut untuk kita renungkan. Dalam pada itu, kedekatan hari besar keduanya syarat memiliki misi yang mirip, antara tradisi Muslim dan Kristiani, yakni penyemaian kasih-sayang (Illah) tak terbatas yang terkandung pada kedua agama. Lebihnya, ritual tersebut merupakan momen penting bagi Muslim dan Kristiani dalam merefleksikannya, pula manifestasi entitas spiritual di dalam ritual tersebut.
Idul Adha, bagi Muslim, bukan hanya sebatas ritual penyembelihan hewan kurban saja, melainkan sebuah kaca atau representasi (falsafati) bagi umat muslim dalam mengurbankan rasa hewaniahnya yang liar/buas (baca: tamak) seperti pendapat Ibn Qayyimal al-Jauziah bahwa manusia terdiri dari jiwa buas yang penuh angkara murka (nafs sab'iyyah ghadabiyyah). Dan momen Idul Adha kali ini (1429 H/2008 M) patut dijadikan refleksi.
Terkait dengan itu, peristiwa Ibrahim yang diperintahkan Ilahi untuk melakukan ritual penyembelihan Ismail, putranya. Dan ihwal demikian menjadi syariat amaliyah dalam perayaan kurban (Idul Adha), yang dilakukan di bulan Dzulhijjah (Lihat QS. as-Shaffat: 107). Peristiwa tersebut meninggalkan pesan tentang kepatuhan, ketulusan, keikhlasan dan spirit untuk berkurban yang berefleksi terhadap sesosok Ibrahim as.
Disamping itu, Natal bagi Kristiani bukan sekedar memperingati kelahiran Yesus Kristus, melainkan sebuah panggilan suci (rohani) terhadapnya supaya mereka membalik arah di dalam hidupnya, dalam menempuh kebajikan. Inilah pengharapan yang sesungguhnya dalam memaknai Natal tahun ini, bukannya sekadar sibuk memasang pohon cemara, bukan sekedar liburan wisata, bukan pula sekadar membeli atau memberi hadiah. Namun lebih dari itu, ada esensi “Terang” yang bersinar—yang tersirat. Yakni sebuah panggilan dari-Nya. Yesus lahir memberi sinar “Terang” bagi semesta dan umat manusia (Kristiani), yang mengarahkan kehidupannya, kembali di jalan-Nya. Pula sebagai “Juru Penyelamat atau Almasih” bagi Kristiani.
Dari kedua hal di atas kita bisa menarik benang merah bahwa ritual keagamaan Idul Adha dan Natal masing-masing memunyai kemiripan “misi agung,” yang mampu mengarahkan atau memandu manusia mencapai kebahagian dan kesehjateraan umat manusia dan semesta, baik secara vertikal maupun horisontal. Tanpa harus ada lagi ketidakadilan, kekerasan dan pembunuhan atas nama agama; yang memunyai sifat isolasionis, konfrontasionis, dan kebencian. (David Lochead: 1988)

Ritual Bermisi Agung
Kita sering melihat atau menonton ketidakadilan, kekerasan, peperangan yang mengatasnamakan agama, entah itu melalui media cetak ataupun elektronik, seperti yang terjadi dua pekan lalu di Mumbai India (27-11-2008). Penyerangan dan pemboman yang dilancarkan oleh Deccan Mujahid terhadap warga sipil di beberapa daerah India, dianggapnya sebuah jihad (ritual suci). Juga para lakon “Trio Bom Bali” yang bulan kemarin baru saja dieksekusi mati dielu-elukan sebagai mujahidin—yang dianggap mati syahid atau (mungkin saja) martir—. Padahal aksi itu meninggalkan ratapan (nestapa) bagi orang-orang yang memiliki tali persaudaraan, pertemanan, dan perasaan (ke)manusia(an)? Astaghfirullah.
Lantas pertanyaanya, kenapa umat beragama (theis) sering bertindak buas/liar seperti sifat naturalis hewani hingga sebuah ajaran dalam agama menyisakan duka, lara, nestapa bagi masyarakat—pemeluk agama lain? Apa mungkin (kebanyakan) umat beragama sebatas berpedoman (berpaham) dengan taklid buta, yang percaya begitu saja terhadap sebuah ajaran agama atau sebatas menghafal ajaran-ajarannya, tanpa harus mengerti hakikatnya? Untuk menjawab itu semua di saat inilah, tepatnya, ritual keagamaan (Idul Adha dan Natal) patut dijadikan sebuah pelita yang terang-benderang bagi para pemeluknya sehingga mampu menerangi setiap individual maupun sosial, khususnya. Dan membuat semesta raya menjadi cerah dengan kedamaian dan kesejahteraan. Pula, sebagai khasanah pluralitas agama di nusantara dan seluruh dunia demi memupuk rasa integritas dan solidaritas antar suku, ras dan bangsa, serta menjunjung tinggi nilai toleran dalam perbedaan keyakinan dan kepercayaan.
Hakikatnya, tradisi Idul Adha dan Natal memiliki pesan moral utilitarisme secara koherensi teologis. Yakni dual-dogmatis: panggilan suci dan (ke)sukacita(an). Pertama, panggilan suci: yang bersifat ruhiyah (spiritualis), yang berarti, merupakan asas pokok dalam pencitraan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini. Diakui ataupun tidak yang namanya sesosok pemimpin harus mampu mencitrakan kepemimpinannya dalam melakukan berbagai hal.
Terkait dengan itu, Ibrahim yang saat itu menjadi publik figur pada masanya dengan rela dan ikhlas harus memenuhi panggilan Tuhan-Nya untuk membunuh (baca: mengurbankan) Ismail, walaupun ini sangat memberatkan baginya. Namun dibalik kepatuhan (dibaca: ketaqwaan) beliau, Tuhan berkehendak lain dan menguji keimanan utusan-Nya (Ibrahim) di luar logikanya, dengan menggantikan Ismail (sebagai kurban) dengan seekor kambing. Dia adalah cahaya, petunjuk (penuntun) dan selalu memberikan (jalan) yang terbaik pada umat-Nya. Apa yang dikandungnya adalah benar.
Sedangkan Natal, perspektif umat Kristiani, dihormati sebagai “Sang Penebus Dosa.” Umat Kristiani juga melihat pentingnya momen kelahiran Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Baru disebutkan bahwa Yesus lahir di sebuah kandang. Orang tuanya, Maria dan Yusuf, termasuk kalangan rakyat jelata dan hidup sederhana (Injil Lukas, 2: 4-7). Di sini, makna Natal tersirat sebagai suatu ajakan untuk hidup bersahaja dan rasa solidaritas tinggi terhadap kaum miskin dan lemah; terutama dalam rangka berbuat-baik, tidak berkeras hati, dan selalu berpihak pada orang kecil, serta tidak memberi ruang pada kebencian dan berani berkurban demi nilai humanisme. Yesus pun menyerukan kepada Kristiani; “Di dalam kemah-Nya, aku akan mempersembahkan kurban dengan sukaria.” (Mazmur 27: 6)
Mengingat semua dari itu, panggilan suci tersebut menyiratkan ‘muatan mulia’ bagi Muslim dan Kristiani juga untuk menaggalkan (baca: melenyapkan) sifat hewani—segera—yang bersemayam dalam tubuh manusia dengan merealisasikan makna ritual (Idul Adha dan Natal) dengan merekontruks sikap-perilaku dalam tataran kehidupan pluralis, secara horizontal dan indikatif vertikal, yang beradab dan beretika sehingga mampu menihilkan ketamakan (individualistis), materialis (kapitalis), dan anarkis.
Kedua, (ke)sukacita(an), seyogianya termanifestasikan, ditumbuhkan dan disemaikan dalam tingkah laku setiap hari, tanpa harus mengenal (waktu-ruang) dimana, kapan, dan untuk apa dan siapa. Terpenting, suka-cita terdorong oleh rasa kesadaran yang bersemayam dalam tubuh manusia. Sebab kesadaran merupakan sense yang dimiliki manusia dalam mengaplikasikan sukacita, bahkan memunculkan ke permukaan, bukan milik ciptaan-Nya yang lain. Hingga sebuah (peng)harapan kasih-sayang merupakan buahnya dan terwujud tanpa memandang ras, suku, bangsa dan—wa bilkhusus—pemeluk agama-kepercayaan lain. Dengan kesadaran, sebagai kunci integritas, maka peran eksistensi manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas, dalam mewujudkan sukacita dengan refleksi Ibrahim dan Yesus. Supaya ritual Idul Adha-Natal memberikan epistemologi bagi yang melaksanakan dan mengejawentahkan. Sebagaimana Ibrahim sadar dengan kwalitas-kwantitas (eksisntensial) yang terbatas, sebagai makhluk-Nya, pula Yesus. Mereka rela (ikhlas) dalam menjalankan amanat (baca: firman) dari-Nya.
Jadi sukacita tidak akan (hanya) tampak ketika kita, sebagai manusia, mendapat kebahagian, pada momen tertentu saja. Misalnya, kita lulus ujian CPNS, menikah, melahirkan seorang anak, ulang tahun dan—sayangnya—merayakan tradisi ritual keagamaan di momen tertentu saja. Tapi bagaimana (ke)sukacita(an) dijadikan élan vital, seperti tarikh Ibrahim dengan putranya juga kelahiran Yesus di sebuah kandang hewan, demi terwujudnya transformasi sebuah peradaban manusia progresif dan dengan “Cinta(lah)” sebagai ajaran primer dalam agama-keyakinan, menuju dan menjunjung kemaslahatan umat, dimana humanistik menjadi prioritas utama. Inilah ajaran sejati dari keduanya—Ibrahim sebagai pencetus ritual “Hari Raya Kurban” dan Yesus asal-muasal ritual “Hari Natal”—.
Lain daripada itu, dalam pandangan Islam sesosok Yesus adalah Nabi Isa as, yang merupakan nabi ke-24, hidup sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Dan apabila umat Muslim tidak meyakininya maka tak sepantasnya ia disebut “Muslim Sejati.” Karena mengimani Yesus merupakan salah satu pilar iman fundamentalis. Dan di sinilah peran koherensi teologis yang semuanya berasal dari Ibrahim—buyutnya para nabi—sebagai pioner agama samawi: Yahudi, Kristen dan Islam, sehingga ajarannya tersebar ke seluruh penjuru dunia dan ajaran utamanya adalah cinta, kasih, sayang bagi semuanya. Mengutip sedikit syair Abul Ala dalam A Sufi Message of Spritual Liberty (1914): Ka’bah, gereja, ataupun candi // Qur’an, injil bahkan serat kitab kuno sekalipun // Semua ini, kumaklumi sepenuh hati // Karena agamaku, sekarang, adalah (agama) cinta.
Jadi apapun wujud (form) dari sebuah keyakinan (iman) terhadap sesuatu agama takkan menghalangi kita untuk menebarkan rasa cinta sesama. Tentunya penulis—sebagai Muslim—tidak akan segan-segan untuk mengucap “Selamat Hari Raya Natal” bagi umat Kristiani. Sebab cinta puncak segala rahmat yang bermuasal dari Tuhan agama samawi, Illah. Apalagi al-Qur’an telah memberi selamat pada tiga momen: saat kelahiran, wafat dan kebangkitan kembali. “Dan salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku (Isa: Yesus Kristus), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku akan meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali.” (QS Maryam:33). Maka dari itu, bagi umat Muslim yang telah melaksanakan ritual Idul Adha harus berkesadaran sebagai ciptaan-Nya dan mampu membunuh rasa hewaniyahnya, dan—pastinya—takkan segan-segan mengucap “Selamat Hari Raya Natal” bagi saudara kita, tetangga kita, dan masyarakat yang beragama Kristen/Nasrani supaya esensi Idul Adha (hari Raya Kurban) tidaklah sia-sia di ma’rifat-Nya. Yang berorientasi toleransif aktif. Hematnya, membangun bumi Tuhan yang indah nan elok haruslah dengan “Cinta” serta tak harus ada penghujatan atas nama agama-keyakinan, tak harus ada lagi darah yang menghiasi kulit bumi dan tulang-belulang atau mayat-mayat berserakan yang tak dikenal identitasnya. Amin. Allahu a’lam.***

Jumat, 28 November 2008

Pornografi dan Demokrasi


Pengesahan UU Pornografi pada bulan kemarin (30/10/2008) menyisakan berbagai persoalan, internis dan eksternis, sosial. Terkait dengan seni-budaya di setiap daerah dan bentuk arbitrasif. Padahal kalau ditinjau lebih jauh, sebuah penciptaan hukum (rechtscheppend)—rule of law—harus berdasarkan dua faktor: filsafati dan sosiologi.
Syahdan, UU Pornografi—secara kronologis, terbentuk dari sebuah konflik kontroversi yang terjadi di tahun 2003, yang mana goyang ngebor si Inul Daratista menjadi pergunjingan (polemik) pelik. Ihwal tersebut bermula dari ‘Raja Dangdut’ yang menolak keras tentangnya: bahwa seni (dibaca: dangdut) merupakan budaya Indonesia—yang menitik-beratkan terhadap nilai-nilai luhur moral-etika bangsa. Dalam arti, goyang (ngebor) si Inul sudah meloncat lebih jauh dari moral-etika bangsa ini, pula dapat memicu seksualita—demoralisasi, dan menyangkut porno-aksi. Sampai-sampai MUI turut serta mengeluarkan maklumat larangan keras bagi Inul dalam beraksi; goyang ngebornya. Pun menyusul sederet Budayawan (diperbagai wilayah Indonesia); melarang aksi panggungnya, bahkan mengecamnya, serta orang-orang yang kontra dengannya—entah lantaran politis subjektif ataupun kecemburan sosial belaka (jelaousy of mere social) yang menitik pada materiil, lantaran popularitasnya melejit, melangkahi seniman sejawatnya bahkan seniornya atau (jangan-jangan) Inul-fobi.

Berhubungan dengan itu, di beberapa daerah terjadi demoralisatif; sikap-aksi. Misal di Pasuruan terjadi pemerkosaan (fidopelia), sehabis menonton goyangan ngebor Inul. Tambahnya lagi para gadis di kota kembang (julukan Bandung) banyak yang tidak perawan serta kejadian-kejadian immoral—koherensif seksual—lainnya.
Barulah di penghujung tahun 2006, ’Raja Dangdut’ mulai mengutarakan pendapatnya lagi di depan parlemen sehingga RUU Pornografi lahir, sebagai draf hukum (RUU). Dan barulah di tahun 2008 UU Pornografi mulai ”unjuk gigi,” sampai-sampai parlemen mengesahkan UU tersebut. Sekarang, tinggal menunggu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani UU Pornografi yang disahkan DPR (30/10) untuk mengajukan uji materiil (judicial review) ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Lebih dari itu, sejatinya, Presiden SBY patut mengambil kebijakan yang positif-afirmasi, dengan berdasar ideologi NKRI; Pancasila dan UUD ’45, yang berefleksi terhadap tuntutan sektor riil yakni demografis sosial, dalam merepresentasikan UU pornografi terhadap semua warga. Sehingga tidak dikhawatirkan terjadinya konflik horisontal yang rawan akan disintegritas internal. Analoginya, hukum dan masyarakat ibarat jiwa dan raga, masyarakat adalah raga sedangkan ruh adalah jiwanya (volkgeeist), seperti penyataan Karl Von Savigny Dan Puchta.
Hakikinya, sebuah perundangan (hukum) dibuat berasaskan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab atau lebih tepatnya meminjam pernyataan Protagoras (wakil kaum Sofis 500-an SM) hukum dibuat sebagai buah logos (bukan produk nafsu). Entah secara politis atau popularis. Akan tetapi, terkait dengan pengesahan UU Pornografi yang terkesan grasa-grusu dalam penciptaan hukum secara rule, kronologis UU Pornografi di atas, namun tak membias pada ’keadilan sosial’ sebagai konsepsi hukum yang patut diagungkan.
Justru dalam pengesahan RUU Pornografi nampak abstrak (kabur) yang berdampak konflik horizontal yang rawan disintegrasi berbangsa-bernegara. Dengan faktor tersebut, seyogianya UU Pornografi (wajib) dipertimbangkan kembali—khususnya bagi Presiden dan MK—sehingga tidak berdampak pada pola kesenjangan sosial melainkan penetrasi sosial, persatuan-kesatuan, di bawah naungan NKRI dan mampu mengakselerasikan tujuan (hukum) perundang-undangan yakni kemanfaatan halayak.
Seperti yang tersebar di media massa (cetak-elektronik), Provinsi Bali seratus-persen menolak RUU Pornografi, juga Sulawesi Utara dan Papua. Tentunya devidensi (pro-kontra) ini—jangan dianggap—semisal angin yang ngampung lewat melainkan angin shinkansen yang mampu merubuhkan segalanya. Keretakan bangsa (nation train) dalam kehidupan bernegara, disintegrasisme. Dan RUU tersebut sudah menyulut sebagian warga negara yang saling kontradiksi dan (siapa tahu) akan berujung kepada otoritas personal, berimplikasi sebagai otoritas sosial—dissolusif—.
Tak pelak RUU Pornografi mengalami absurditas apabila dibenturkan dengan seni, budaya, bahkan jurnalisme. Lantas ada apa dengan sikap parlemen yang dengan mudah mengesahkannya?
Yang ada hanya “pendeskritkan nilai-nilai NKRI” apabila dibenturkan dengan seni, budaya dan jurnalisme—. Bisa pula, sebagai tindakan manuver politik buta (blindness will) parlemen yang mampu membuyarkan semangat ideologi bangsa Indonesia yang tercantum dalam batang tubuh UUD’45. Contoh kecilnya, Pasal 4 ayat 1, berbunyi: setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjual-belikan, menyewakan atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang kekerasan seksual, masturbasi dan onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin dan pornografi anak. Namun pada penjelasan frase “membuat” mengecualikan larangan jika digunakan untuk kepentingan sendiri. Berarti semua ini bisa memiliki materi pornografi anak jika untuk kepentingan sendiri. Apalagi pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 48 yang memerintahkan semua pemilik materi pornografi mengembalikannya kepada Negara.
Ironisnya lagi, dalam pasal 1 ayat 1 UU Pornografi, jelas tertulis; pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Dan hal ini yang mampu mendifraksi makna sehingga menimbulkan masalah, khususnya orang yang berkecimpung pada seni, budaya, jurnalis. Serta masih banyak pasal-pasal yang saling kontradiktif satu sama lain dan pengakaburan makna (dimness meaning). Kemudian coba bayangkan, apa jadinya apabila UU Pornografi menjadi hukum legal? Jawabnya hanya dua pilihan: konflik yang tak kunjung selesai sebab menghadirkan multitafsir atau hukum menjamin penguasa yang berkepentingan, injustice sense.
Hemat kata, apapun hasil, kemudian, dari pengesahan UU Pornografi yang akan Presiden-MK putuskan bagi seluruh warga haruslah disikapi dengan kedewasaan intelektual oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan pihak yang bertanggung jawab atas pengesahan RUU Pornografi—Presiden-MK—haruslah lebih mengutamakan terbentuknya aturan responsif hukum (responsive law) sehingga halayak bisa membebaskan diri dari kungkungan hukum murni yang kaku dan analitis hingga terciptanya negara democracy bukan democrazy: demokrasi atau dominasi (para penguasa). Terakhir, Presiden dan MK—saya kira—lebih mengetahui; bijak dan tepatnya dalam mengesahkan RUU Pornografi, sebagai legitimasi hukum. Demi terciptanya aspirasi sosialisme mapan, perluasan peran dan fungsi kewarganegaraan, pendalaman demokrasi, pula penegakan daulat kebangsaan ataupun solidaritas regional yang mampu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.***

ARYA MEN BRAYUT

Siang itu matahari begitu menyengat pori-pori tubuh, panas, semerbak wewangian dupa juga sering melindap-lindap pada sepasang goa kembar yang selalu menekur ke bawah, lubang hidung, hingga seisi ruangan harum dibuatnya. Lalu, bunyi tambur menyusul, bertanda pentas drama akan segera dimulai. “Arya Men Brayut,” tajuk drama tersebut. Sebuah drama dengan berdasar cerita tradisional, berlatar belakang mitologi Hindu dan sejarah Bali.
Drama tersebut menyiratkan sebuah makna tentang sebuah keluarga Men Brayut yang tak lepas dari konflik yang super-kompleks: Pan dan istrinya (Men Brayut) sering bertengkar dan berkelahi, anaknya sebanyak 18 orang dengan tipikal yang berbeda: 4 anak yang alim, 4 anak yang suka seni, 4 anak—kurang lebih—urakan, 4 anak yang berpikiran agak dewasa dan 2 anak masih kecil. Namun mereka, semuanya, tidak saling toleran sesama, hingga sering bertengkar.
Sementara itu kami yang duduk di kursi penonton, bersama warga masyarakat sekitar, sebagai tamu undangan dalam acara “Rembug Budaya Metropoli 2008 selama tiga hari (18-21 Oktober), yang dihelat di Dusun Tanah Lengis, Desa Ababi, Kec. Abang, Karangasem Bali.” Turut mengundang pula Yayasan Metropoli Indonesia (YMID), tak lain merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pengembangan kesenian dan kebudayaan untuk anak-anak. Kami sempat tercengang dengan atmosfer sekitar—yang begitu antusias melihat drama tersebut serta para lakon yang mementaskannya sampai-sampai salah satu dari kami berbisik; seandainya saja masyarakat Jember, khususnya anak-anak, memiliki semangat dalam melanggengkan kebudayaanya mungkin saja bangsa ini tidak akan mengalami degradasi moral. Di mana anak-anak Jember sudah mulai terjangkit dengan (salah satu) penyakit post-modernisme, demoralisasi, seperti yang diberitakan Radar Jember 11/08/2008, berjudul: “Mengintip Siswa Browsing Situs Porno”.

Contoh kecil tersebut merupakan salah satu pen-degradasi-an moral putra-putri bangsa, yang disebabkan post-modernisme. Lantas dimanakah proposisi peran orang tua dan masyarakat sekitar, demi mencapai negasi-demoralisasi yang kian menjamur. Seyogianya kita (sebagai orang tua) bisa mengambil langkah yang bijak dalam menanggulanginya. Misalnya membentuk kepribadian diri anak dengan kognitif-afektif (seperti teori Sartre dalam bukunya: Psikologi Imajinasi) dimana kesadaran/pengertian bersumber dari sebuah pengetahuan yang mana merupakan perasaan (suara hati) serta peran sebuah nafsu (amarah) akan terjungkal—jikalau perlu lenyap—dengannya.
Kalau boleh kami menyuguhi representasi-teoritis, demi negasi-demoralisasi bagai sais dan kereta kudanya. Metaforisnya, Ayah sebagai saisnya, anak sebagai kudanya, serta ibu sebagai keretanya. Terciptalah sebuah kesatuan yang kita namakan keluarga. Di sini ayah yang sebagai sais, seharusnya diketahui, tentang karakter anak dan ibu (dibaca: istrinya) sebab seorang laki-laki merupakan pemuka (pemimpin) bagi perempuan (istrinya), al rijalu qawwamuna ‘ala nisa’. Sedangkan ibu yang diumpakan sebagai kereta seharusnya mampu menyublimatif-afeksi terhadap anaknya: menimbulkan karakteristik yang trasedental imanen.
Secara fenomenologi, seorang sais yang akan menjalankan keretanya akan memakaikan kaca mata terhadap kudanya. Fungsinya, agar kedua mata kuda tersebut hanya memiliki satu ojek dan bertumpu dalam sebuah proyeksi, on focuss. Berakibat kuda yang dikendalikannya nurut atau manut, pun kereta yang dijalankan sampai pada tujuannya tanpa harus terganjal dengan aksi janggalnya. Padahal seekor kuda hanya memiliki insting (nalar kehewanan). Pertanyaannya, mengapa kuda tersebut menjadi manut terhadap empunya (baca: sais)?
Sejauh ini, berbicara akal/pikiran kuda tak memilikinya. Tetapi kalau nafsu (ke)liaranya tak usah ditanyakan atau pun diragukan, pastinya. Tentunya, ada sebuah peralihan (movement) yang berperan di balik semuanya, yakni sebuah proses: dari sifatnya yang liar, secara naturalistik, menjadi manut, secara eksentrik. Kronologisnya, si sais sering melatih kudanya untuk menjalankan kereta dan dibalik latihan tersebut, pastinya, ada aksi in-moral—menurut sufisme—yang mengakibatkan kuda sering menerima cambukan demi cambukan sebab instingnya yang liar, kemudian tercipta apa yang dinamakan “manut” pada kuda. Hal tersebut tentunya harus membeda secara mendasar. Anak memiliki akal/pikiran, juga nafsu dan perasan (sense of love) tetapi kuda tidak—hanya terdiri nafsu dan insting. Kuda saja yang liar bisa manut, terhadap kehendak sais, apalagi manusia yang memunyai akal/pikiran.
***
Singkat cerita, keluaga Pan dan istrinya bisa rukun kembali, serta semua anaknya menjadi akur. Semua ini, bermuasal dari 4 anaknya yang alim, taat akan ritual agamnya, dan 4 anaknya yang suka seni dimana mereka sering bertindak-tanduk/beraksi dengan nilai-nilai norma (etika)—yang bisa diambil faedahnya—yang sudah tersirat dalam ajaran agama dan (ke)budaya(an). Mungkin, adakalanya, cerita Arja Men Brayut dapat dapat dijadikan sebuah tinjauan ontologis untuk menegasi-demoralisasi tersebut. Dalam hal ini falsafah agama dan budaya mengajarkan makna kesadaran. Kesadaran mereka timbul dengan dua hal: diferensiasi dan integrasi walaupun kesadaran mereka berpusat pada tindak-tanduk ke-delepan anaknya: 4 anaknya yang alim dan 4 anaknya suka seni. Dan perlu ditegaskan kembali, kesadaran itu bersumber dari; sensansi (pengindraan), perseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian). (Lihat Kesadaran dan Imaji, Sartre hal: 431). Sehingga, indireks, etis-imanen yang mentransendental dalam tingkahnya.
Mengutip sedikit pendapat I Made Oka, salah satu keturunan Empu Tantular: penulis Kitab Sotasoma, tentang budaya dalam ceramahnya di acara “Rembug Budaya Metropoli 2008” bahwa di dalam (ke)budaya(an) tersirat ajaran falsafah tatakrama/etika (sitabhasita bodhisattvika)—disamping dogma itu sendiri, diajarkan—yang mengandung nilai utilitarianistik sehingga kepribadian anak menjadi tangguh/kokoh, bagai batu arca yang tak lekang dimakan zaman, dalam menghadapi pelbagai macam problematika sosial yang kian hari kian pelik. Ada pepatah: buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Bisa ditarik benang merah, konflik yang terjadi di dalam keluarga Men Brayut, semuanya, bermuasal dari tindak-tanduk orang tuanya.
Nah, di sinilah pentingnya ajaran moral/etika yang seharusnya diperkenalkan kebudayaan mulai sejak dini, sebagai orang tua, sehingga tidak terjadinya masyarakat yang hiper-modernisme kontemporer (teori Alen Tourine); di mana kehidupan sosial kini telah kehilangan nilai-nilainya dan tak lebih hanya hanyalah sebuah arus perubahan terus-menerus, yang di dalamnya aktor-aktor individu maupun kolektif tidak lagi bertindak sesuai dengan norma-norma yang ada, fungus-demoralisasi. Hemat kami, mengenalkan (dibaca: mengajarkan) (ke)budaya(an) berarti menyuapkan tentang etika mulia yang adiluhung dan berujung akan sebuah kesadaran—yang ada bagi (setiap) diri (etre pour soi)—akan eksistensi sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah komunitas difrensial, bernama NKRI, namun tetap memiliki kecintaan tak terbatas terhadap seluruh komponen sosial: keluarga dan masyarakat luas. Dus, kesadaran merupakan kunci menggapai masyarakat yang beradab dan bermatabat, juga datangnya kehidupan yang sejahtera bagi semua. Wallahu a’lamu bil sawab.***