Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2009

Sajak


Sang Perawan Berkerudung Kuning

kerudung kuningmu bak mulut api melahap kepala. bulu-bulu kepala akhirnya mengerucut, ciut. bahkan hitamnya mata berubah putih semua.

sekarang, aku tak mampu menyimpan wajahmu di balik goa mata. tempurung otak juga jengah menangkap sihir dari bibirmu, seperti senja memeluk punggung gunung.

kasih lepaskan saja kerudung kuningmu itu!
mata ingin melukis wajah merahmu supaya alis bisa memoles lega kepada pelipismu yang halus selaksa pasir gurun. dan bibir mencoba menangkap mantra saktimu hingga sirna. hanya berlebur air liur.

kasih, mengertilah…!
aku tak ingin kembali ke nerakamu. aku tak sanggup. kumohon, lepaskan saja kerudung kuning itu. tuhan tidak akan ikut campur dalam hal ini, sebab ia masih terbelunggu masalah manusia. terpenting, kau dan aku bersatu menjadi pasangan tunggal sampai hayat.

Rabu, 06 Mei 2009

Sajak


DINDA, TOPENG HITAM YANG KAU SULAM PADA SELIMUT INI MENJELMA HANTU. MATAKU SERASA KELELAWAR, APALAGI HATI SEPERTI ANAK PIPIT DI SARANG SENDIRI.


dinda, telah enam bulan kau tinggalkan karya hitam yang begitu cekat dalam kamar tidur kita—yang sering menghelatkan irama cinta antara ada dan tiada. pula selalu mengundang kunang-kunang muram menatap malam hingga arwah-arwah jengah kentayangan. tak luput, katak-katak penuh diam-dendam.

(apa mungkin dinda berharap topeng abu-abu?)

dinda, kini aku masih miris menatapnya, serasa mata sapi di rumah jagal. andainya saja engkau tahu rasa menjerat, mungkin engkau akan mencungkil matamu lalu menggantikan milikku. serasa hasrat ibu pada orok bayi. namun semua masih menjadi misteri malaikat-malaikat merahmu; yang menjaga sulaman topeng hitam.

Sabtu, 14 Februari 2009

Sajak


KAKI DRUPADI
/1/
sudah kali keberapa kau haturkan om swastiastu namun ia tetap tak menggubris
apa mungkin ia benci pandawa hingga tak tahu harus memilih siapa
setiap waktu ia harus melayaninya, satu-persatu
atau mungkin tak ada cengkraman dalam dada yang menyesakkan
memang, dalam ruangannya terdapat sekat-sekat yang kau tak memiliki
bisa jadi, ia dicipta oleh dewa, sebagai penjajah, bagi pandawa

selendang merahnya selalu menutup wajahmu
gelang-gelangnya menjelma kalung: penjerat leher
apalagi, kakinya sebagai akar—elan vitalis—kehidupanmu
dan kau tak sanggup untuk itu…

sekarang, krishna tak berdaya
kewalahan dalam bergaya
hentakan kakinya mengguncangkan
semua ikut bergoyang
bahkan ia mempertaruhkan tubuhnya
walau berat tapi terasa ringan
dan siapapun jua akan mudah menikmati
tapi esok akan mati sunyi
sampai kau-ia menggapai kasunyatan…

/2/
setiap kali kau mengekorinya sabdamu membungbungkan pada altar dewa dan ini sudah cukup lama kau menjalani hingga cabang bayi di kandunganmu sering bertaruh untuk maut. entahlah tak habis pikir!
pula, kaki-kakimu selalu menghentakkan tanah seraya mengiring alunan tabla ria.

/3/
tak perlu engkau dengar apa yang mereka ujar
biar semua nanar dengan rupa damar
dan jangan satupun boleh berujar:
engkau piawai meritmekan senandung kelambu
sebab kau terlahir untuk kita
bukan untuk siapa-siapa…
kau drupadi masa kini
paras cerlang
rambut menyibak
tangan menggerayang
kaki menginjak

selamat, engkau drupadi…
yang menjadi saksi dan bertaruh demi pandawa

Kamis, 22 Januari 2009

Sajak


Berangkat Layu
—Niswah
kelopak mawarku kusut-lusuh terkulai di hamparan bertepi, terhimpit hidup dan mati. putiknya bergelar mulai hengkang tak beraturan hingga kumbang-kumbang jengah datang. seisi ruang pun turut dalam keheningan, terarak kedukaan.

aku dan hatiku mengiba apa yang kau rasa jiwa dan raga tak berasa, karena aku bukanlah kumbang yang suka menjamah bunga sembarangan. mataku mulai sembab terharu akan sebab, pula hati merawankan sebuah akibat.

‘kasih gerangan apa yang kau rasa?’

kutak paham karena engkau membungkam
kutak jelas karena engkau mellas
kutak terpikir karena engkau getir

tapi, mata hati selalu tahu apa yang kau unduh dan sang wisesa sering memberi tahu tentang siratan ruh melalui ayat-ayat syahdu. sedu-sedan telah kusampaikan pada malam temaram, jua ratapan sudah kurebahkan di awan-awan yang sedang berlenggang ‘tuk menunggu suatu keajaiban agar bisa mengembang..

(RS. DKT 09/02/2007)

LEPASKAN

ingin sekali aku melepaskan wajahmu—yang selalu mengikat hati hingga sesak—dari ruang tubuhku. apalagi, ikatanmu amatlah kokoh, seperti lilitan rantai besi yang terikat pada tubuh mesiah di tiang gantung. rasanya, harapan itu sebatas pintu angan.
kasih, mampukah dengar riak darah jantungku supaya kau bisa merasakan apa yang kurasa. tapi mengapa wajahmu selalu menggambarkan warna biru cerah pada layar semesta, serasa kau tuli dengan jerit hati ini! atau mungkin tuhan yang sengaja mengirisku secara perlahan, hingga imanku sebatas air mendidih dalam panci. kalaulah begitu, biarkan aku mati atas rantaimu dan setan menjemputku, menuju dunia pembebasan, dan mengajariku makna hidup; bahwa hidup sebuah perjudian yang berada pada putaran begel, yang sering bergulir dengan liar.
tolong, bukakan rantaimu ini atau kau biarkan aku mati dalam ketir terbalut kafir



EPISODE PADA RANJANG



/1/

pernah sesekali, malaikat malam menghaturkan salam birahi. sepasang pahanya menggambarkan huruf M. rasanya, mataku terjerat, terikat dengan simbolnya. lalu, ular dalam nadiku merayap liar. tak mampu kuhalang. aacchh………….
malaikat-aku beradu dalam gagu sehingga kami pun menyatu dalam kabut tabu. dan kami terbang melewati alam buta, tanah tak bernama dan langit tak bernyawa. “ini baru petualangan,” gumamku.
malaikat hanya bisa tersenyum, mengembangkan pipi serasa mawar merekah, seraya memeluk erat tubuhku dalam kehampaan yang amat bermakna dan menindihkan ruhnya dengan bebas. kutersengal dalam kebebasan. “mari haturkan erang tanpa beban biar tuhan mendengar,” tambahnya.
/2/
gumulan demi gumulan telah kita lalui seksama. tak satupun lakon tersisa di balik bra-celana dalam, semua terhempas pada udara beku. aku-kau bersemayam pada biru surga—rasa, menyiratkan sebuah eksistensialis.

“mas, aku ingin lebih dari malam ini,” pintamu

sungguh tak kunyana, birahi bertabur puing-puing debu jahanam. aku tak kuasa, seperti hasrat mati bisma terhadap srikandi. tapi, hendak apalagi yang harus kulakoni agar kau merasakannya lebih!

“mas, hayo berusahalah.”

urat malangkah ketir
darah mengalir perih
dan jantung dilalap api

“aku tak sanggup.”

Rabu, 31 Desember 2008

Sajak


DuaPuluhDua Tahun
—Niswha
kau telah menjejak tanpa sadar seperti roda menjejal di pasir, menceruk, di mana langkah bertingkah pada angin, hasrat memeluk kabut dan cinta bersenggama dengan awan. adik, pernahkah terbayang dalam benakmu; angin-kabut-awan, untuk dijepit pada batangmu? supaya kau sadar dengan jejakmu yang sudah melampaui batas, melintasi kota tak bertuan, kian lama. pula batangmu rapuh dimakan waktu hingga daun-daunnya meluruh… ataukah langkahmu sebatas pelangi yang melintas sejingkat kepada kelopak.
hayo, adikku—tersayang—lihatlah kegelapan!
inilah saat melihat batu cerlang
hayo, bersamaku…!
di dunia tanpa koma—titik, dan tanggalkan semua…
Kisah Belaka
pada malam, elang datang
membawa sebuah pesan
—bungkusan hitam—
isinya kosong
kecuali aroma patma
menyengat, menusuk,
lubang tulang
huuuzzz…
ia hilang dengan cepat
tanpa pesan
tanpa salam
hilangngng…

Pesan Belum Selesai
sebelum matahari menyepuh dengan keji
pada kedua matamu
izinkan ia mengumbar umpatan suci
biar perih-pedih tak kembali

ô manusia berbaju tahta
tundukkan kepalamu dengan paksa
lihat bumi sudah memerah—berdarah—amarah
tak ada lagi cinta yang patut dipuja
tak ada lagi kasih yang diberi
tak ada lagi sayang yang patut diperjuangkan
dan tak ada…

ō manusia berhati serigala
pendamkan emas pada dada lapang
simpanlah amanat di raga sekarat
camkan…

Perbedaan Bulan
dahulu bulan sering digambarkan
dengan sesosok idaman
yang bergangsing di hati
dan takkan pernah berhenti
bagai kincir tertiup angin

sekarang bulan selalu menjadi kata magis
yang mampu melucuti jiwa manusia
dengan impian meruah
melekat dalam dada, bertabur bangga
hingga akhirnya lupa…

Cicak Dalam Sajak
dalam sajak selalu ada cicak
merayap tanpa jejak
berkeliaran tanpa sekat

cicak-cicak di dinding
diam-diam bergunjing:
nyamuk-nyamuk nakal
tinggalnya di gedung-gedung
saling menggonggong
dan mendengung…

Do’a
siluet cahaya melintas amat cepat
jiwa pun terasa sekarat
bagai izrael siap menjemput

cahaya, benarkah engkau cahaya
biar mataku tertutup
sinarmu menyilaukan jiwaku
cahaya, aku ingin cahaya
sinarilah tanpa jedah
jangan sisakan petang duka

mata, mulut sudah tak ada dalam raga
kecuali secercah cerlang
—yang tak tahu harus kesebut apa—

Memori Sebuah Epitaph
namamu sebatas cakrawala yang menghias pada senja
bila malam pun tiba maka hilang jalan satu-satunya
ingin rasanya aku ingat engkau di setiap waktu
selama aku belum menyusul engkau

kata-katamu hanya menjadi hiasan pikiranku belaka
sulit dilamat namun masih melekat, itu pun hanya sekejap
mungkin benar apa kata orang:
sebuah nama hanyalah identitas personal
tapi sebuah jasa merupakan manusia—hakikatnya—
walaupun (harus) bersisa cela…

izinkanlah daku memelukmu…
jikalau tanah harus berbalur tubuh
bagai cacing yang setia,
tak perlu air mata menyumbat duka
yang terpenting menyusul, biar kau dan aku bersatu…

Sang Misteri…
kubuka kitab-kitab daun, sehelai demi sehelai
berharap (rangkaian) mahda menjelma mantera
yang mampu membungbungkan jiwa ini mencapai
puncak bahagia

bilamana gundah terusir, lalu tenang tiba
wahai pujaanku, izinkan aku bersanding denganmu
biar-pun sejingakat waktu…
aku sangat membutuhkanmu, agar kokoh tonggakku
dalam kalbu, memasak relung amat dalam
pula rumahmu di dalamnya menjadi istana
yang takkan pernah runtuh menjadi puing-puing abu

oi…cintaku…
malam-datang, malam-tenang, malam-gelap
siang-pulang, siang beramai, siang-terang
sayang…

Sepenggal Cerita dari Jembatan

/1/
di bawah jembatan ini
kau tuang anggur suci
kepada cawan putih-bening
sebagai hadiah dari peri
di malam suci

dimana daun memerah
darah menderas
jantung bergetar
dan akal terbang

aku dan kau mulai mengawang
meniti tangga langit yang amat panjang
dibalik tirai angan dan bayang

/2/
kasih
jembatan itu tak ada lagi
semenjak kau pergi bersama peri

aku sedih
kenapa para punggawa di negeri ini lupa diri
yang dipikirkan hanya upeti
sampai jembatan itu menjelma istana putih

Niwata

Ô niwata…
kenapa kau tampak segar
ketika pria menatap
seperti mawar yang riang atas kehadiran kumbang

Ô niwata…
kenapa ronamu menyiratkan perahu
di tengah samudera, yang menampung pria sejagad
lalu mengolengkannya
tak cukupkah kau berseteru dengan deru ombak
yang bias mengkaramkan kita
mungkin kau senang melihatnya
tidur di dasar laut dan terjaga dengan pucat-pasi
seperti ikan terbius karena racun

Ô niwata…
aku-kau adalah sebatang pohon
yang sengaja dicipta olehNya
untuk mengebaki dunia agar bahagia
bukannya seperti minyak dan air
yang telah menyatu namun tak bisa bersetubuh

Ô niii…waaa…taa…
kau masih manusia

Celoteh

sore ini, apa yang bisa aku tulis?

menulis surat cinta lagi untukmu
sudah tak berguna, karena kata-kata
telah kau musnahkan bersama
pepohonan terbakar

pula puisi rindu telah kau bunuh
dengan rentetan nafsu liarmu…
seperti pemburu membunuh
hewan-hewan lugu di dalam rimba

mungkin saja aku harus membunuhmu
tapi aku tak…
biarlah kenangan kita yang mengebaki
buku-buku tak berhalaman
dan biarkan rasa kita menjelma
kunang-kunang liar di malam kelam
supaya kelak aku bisa mati tenang…