Senin, 15 September 2008

Lomba Jurnalistik

PENGHARGAAN AJI-UNICEF UNTUK KARYA JURNALISTIK TERBAIK TENTANG ANAK

Tahun 2008, AJI-UNICEF kembali menyekenggarakan ‘ PENGHARGAAN AJI-UNICEF UNTUK KARYA JURNALIS TENTANG ANAK’. Penghargaan ini terbuka untuk jurnalis media cetak/online, radio dan televise. Total hadiah sebesar 66 juta.

Ketentuan:

  • Karya jurnalis (cetak/online, radio, TV) berupa feature tentang anak.
  • Setiap jurnalis media cetak/online, radio, TV di seluruh Indonesia dapat mengikuti perlombaan ini.
  • Karya harus pernah dipublikasikan atau disiarkan di media massa (bukan media internet).
  • Setiap peserta bisa mengajukan tiga karya.
  • Karya peserta harus pernah dipublikasikan pada media massa umum pada periode antara 26 September 2008 – 7 Oktober 2008.
  • Karya harus sudah diterima panitia paling lambat tanggal 9 Oktober 2008
  • Karya harus dilengkapi dengan pernyataan bahwa karya adalah karya orisinal. Jadi bukan saduran, terjemahan dan tidak termasuk advertorial komersial.
  • Ralat, jika ada, harus disertakan.
  • Karya belum memenangi lomba jurnalistik.
  • Karya yang sudah dikirim ke panitia tidak akan dikembalikan.
  • Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat.
  • Untuk karya media cetak, peserta harus mengirim kliping beserta soft-copy karya yang sudah dimuat. Untuk media on-line peserta harus mengirimkan karyanya berupa print-out yang sudah di copy langsung dari situs beritanya. Karya harus dilengkapi dengan surat keterangan dari redaktur media on-line yang menyatakan bahwa karya yang dikirimkan pernah dimuat di media tersebut.
  • Untuk karya media radio, peserta harus mengirim karyanya dalam bentuk CD (MP3 atau WAV). Karya harus dilengkapi dnegan surat keternagna dari pimpinan (PemRed) yang menyatakan bahwa karya yang dikirimkan pernah disiarkan di radio tersebut. Peserta diwajibkan mengirimkan naskahnya.
  • Untuk karya media TV peserta harus mengirimkan karyanya dalam bentuk CD/ DVD (MPEG atau AVI) dnegan mencantumkan nama dan asal media di kepingan VCD/DVD. Peserta diwajibkan mengirimkan naskahnya.
  • Sponsor hadiah oleh Mayora dnega total hadiah hadia sebesar Rp. 66 juta. Masing-masing sebesar 10 juta (pemenang 1 per kategori), 7 juta (pemenang II per kategori) dan 5 juta (pemenang III per kategori)
  • Kirimkan karya jurnalistik ke secretariat AJI Indonesia di: Jln. KEMBANG RAYA 6, KWITANG, JAKARTA PUSAT 10420 atau telp/fax: 021-3151214/021-3151261. Atau hubungi panitia ‘PENGHARGAAN AJI-UNICEF UNTUK KARYA JURNALISTIK TERBAIK TENTANG ANAK’ atau hubuungi 081330392480 (Alida) atau 08128572252 (Minda).

Senin, 25 Agustus 2008

Cerita-Cerita Timur

Kumpulan cerita pendek ini pada mulanya disajikan dalam bahasa Perancis dengan judul Nouvelles Orientales atau “Cerita-Cerita Timur” (Terj. Indonesia) oleh Marguerite “Yourcenar”—nama samarannya—. Sebenarnya ia memiliki nama yang cukup panjang; Marguerite de Cleenewerk de Crayencour. Lalu, di saat ia terjun ke dalam dunia penulis, ia memutarbalikkan nama Crayencour menjadi “Yourcenar”, supaya orang lebih mudah mengingatnya.
Buku kumpulan cerpen itu, ditulis dan dipersembahkan Marguerite Yourcenar untuk seorang sahabatnya, orang Yunani, Andre Embricos—seorang penyair dan psikonalis, temannya saat ia berkelana di Yunani—. Di dalam pada itu, buku itu berisi cerita-cerita fiksi yang pernah di tangkap oleh kupingnya, saat ia mengembarai daerah timur Prancis—tempat tinggalnya—seperti Balkan , Yunani, Cina dan Jepang, kemudian ia menceritakan kembali dalam bahasa yang ringkas, padat dan puitis. Analogisnya, nilai estetis dalam cerpen itu seperti angin sepoi yang membelai pengembala ketika siang menggerayanginya dengan panas. Kiranya, pembaca akan tenggelam dalam genangan imajinasi dan, tentunya, estetis yang tersirat dalam cerpennya mampu menggugah pikiran pembaca seakan-akan ia—pembaca—pernah hidup di masa silam, saat perang dunia ke-II bergejolak di negaranya, Perancis.

Dalam bukunya ada sepuluh judul yang semuanya memiliki cerita-koherensif satu sama lainnya. Maksudnya, komposisi-komposisi ceritanya bersifat simetris. Cerita pertama berpadanan dengan cerita kesepuluh. Cerita kedua dan kesembilan, cerita keempat dan cerita keenam, lebih jelas lagi berikat, karena ia mengisahkan tokoh yang sama. Bahkan, bisa dibilang, cerpen itu memiliki alur atau plot yang cepat walau cerpennya tersirat alegori dan puitik. Tidak seperti cerpen Indonesia— dalam kategori cerpen-puitik dan alegori—yang rada-rada lambat. Tentunya cerpen karya Marguerite Yourcenar “Cerita-Cerita Timur” patut ditaklid—oleh cerpenis Indonesia—namun tanpa harus memupuskan kulturalisme bangsa kita sendiri atau karaktersistik setiap penulis.
***
Menurut Himawijaya kreatifitas seorang sastrawan dalam mencipta sebuah karya memiliki dua hal yang mesti dilakukannya—dalam penciptaan karya—. Pertama, proses internalisasi, yakni bagaimana sebuah gagasan, ide, keinginan, ataupun penglihatan, pendengaran atas realitas (baik indrawi atau sejati) disublimasikan di dalam diri. Di sinilah letak penggalian inspirasi, tindak kontemplasi. Kedua, proses eksternalisasi, yakni bagaimana beragam endapan dan sublimasi diri ini diartikulasikan dalam bentuk karya, dibahasakan, dan diwujudkan.
Tentunya, kedua hal di atas merupakan proses yang disublimasikan pada diri Marguerite Yourcenar dalam bukunya. Sehingga karya itu memiliki unsur objektivitas dan subjektivitas dalam memaparkan sebuah karya, yang dibilang mempunyai nilai estetis yang patut disejajarkan dengan sederet karya penulis-penulis Perancis lainnya seperti; Julio Cartezar, Milan Kundera, E. M. Cioran dsb.
Hemat kata, buku kecil itu bisa dijadikan kaca bagi penikmat, pelaku, pengamat sastra dalam mengarungi dunia sastra Perancis. Siapa tahu, salah satu dari mereka bisa memperkaya khazanah kesusasteraan Indonesia.

Hermeneutika Tangis Spiritual

Pernahkah anda menangis?
Pertanyaan di atas bukanlah semacam pertanyaan yang iseng, jenaka, bodoh atau lelucon akan tetapi sebuah pertanyaan yang bisa dijadikan refleksi personal untuk menguak sebuah ‘tangis’ yang dialami kita, sebagai manusia. Setiap manusia, tentunya, pernah menangis, tanpa terkecuali. Lalu, apakah tangisan yang dialami kita memiliki sense positif atau negatif.
Dalam buku “Tangis Rindu Pada-Mu” karya Muhammad Muhyidin menguak misteri tangis, yang sering dialami manusia, sehingga anda diajak menyelami hakikat tangis dan seluk-beluk air mata, pula mengajak anda belajar menangis dan mengeluarkan air mata dengan tangisan dan air mata yang tidak sia-sia belaka. Dan menangis tidaklah menjadi momok lagi bagi kehidupan manusia.

Mungkin selama ini ketika ada seseorang yang menangis karena duka atau bahagia, dianggapnya tangisan itu adalah bahasa jiwa. Dalam artian, menangis merupakan luapan fisik atau psikis yang terkandung dalam personal—baik itu sadar maupun tidak sadar. Entah itu menangis karena luka yang dideritanya, entah itu ditinggal sang kekasih yang lebih dulu mati. Entah menangis karena lulus ujian negara sebagai PNS, dan banyak lagi faktor-faktor eksternal maupun internal yang menyebabkan manusia menangis.
Dalam bukunya penulis menyeret kita menyelami samudera tangis demi mencapai hakikat tangis yang sesungguhnya. Dari berenang terhadap air mata sampai menyelam pada sumber air mata itu sendiri, dengan kalimatnya yang datar menyodok pembaca untuk tenggelam pada samudera tangis yang bermanfaat bagi manusia, alam dan sang pencipta. Pun, dalil-dalil agama—al-Qur’an dan hadist—, psikologi, mengebakinya di dalam sebagai baju selam bagi pembaca (supaya tidak sia-sia) untuk sampai di dasar samudera tangis demi mendapatkan sebuah mutiara tangis yang tiada tara.
Dari proses penyelaman itu, tentunya, kita akan diajak kepada dunia yang sifatnya spiritual, invisible. Mengasah kepekaan rasa, meluluhkan hati yang seperti batu, dan memuncaratkan air mata dengan mudahnya demi menggapai mahligai kebahagiaan, dunia dan akhirat.
Tangisan Spiritualistik
Seorang pemeran lakon dalam pentas drama memuncratkan air matanya, sebagai akting, sangatlah mudah, atau si buaya darat merengek di depan sang pacar dengan mengharapkan balasan cinta darinya, dan masih banyak lagi macam tangisan seperti itu. Tetapi, semua itu, berbeda dengan menumpahkan air mata karena mengharapkan rahmat Allah SWT bahkan merindukan-Nya—yang spiritualistik. Yakni tangis yang keluar dari jiwa yang tercerahkan. Sebuah tangis yang menafikan humanisme melainkan spiritualisme. Tangis yang bermuasal dari hati nurani, bukan dari letupan emosi. Tangis yang menyelamatkan seorang dari keterpurukan atau jurang mudhorat.
Seperti kita tahu, menangis kadang sulit dilakukan terutama saat hati kita lagi lapang atau bahgia. Barulah, ketika ada bencana, musibah, ujian, mata bisa meneteskan air mata, setetes demi setetes, kalau pun perlu, menangis seraya meronta-ronta. Ataukah hati kita sudah membatu dan buta, lantaran selalu lupa dengan-Nya.
Lalu, bagaimana dengan tangisan orang-orang syi’ah (salah satu aliran islamisme)—menjerit-jerit, seraya mencambuk kulitnya dengan benda tajam sampai-sampai darah bercucuran, demi berharap barokah dari cucu Muhammad SAW—Husain yang dibunuh oleh kaum Quraish—di samping mengharap ridho Ilahi, tepatnya dilakukan di bulan as-syura (muharram). Apakah tangisan semacam itu tergolong tangisan spiritualistik atau tangisan awam yang tak berguna atau sia-sia belaka.
Dalam bukunya, penulis (M. Muhyidin) menafsirkan “tangisan kaum syi’ah” sebagai tangisan awam (tingkat tangisan terendah), tangisan yang tidak bermanfaat, baik psikis maupun fisik, dan lebih banyak mudhoratnya. Bayangkan, darah yang berceceran dari kulit kaum syi’ah dianggap darah suci yang bisa mengantarkannya ke surga, bagi kaum syi’ah.
Sungguh pun, kasus di atas merupakan upaya sebuah tangis yang berbeda, dalam kaca mata penulis (Muh. Muhyidin) yang beralirkan sunni. Di mana kaum syi’ah merupakan kaum yang dinafikan dipelbagai sektarian islamisme (aliran-aliran islam) bahkan sebagian para pemuka islam mengklaimnya kafir atau sesat. Menurutnya, tangisan itu memiliki banyak mudhorat (uselles).
Meminjam teroka Ibnu Sina (Avicenna) dalam konsep dualisme dalam menerangkan hakikat ruh dan tubuh yang dibenturkan terhadap realitas. Yakni, andaikan seorang dilahirkan dalam keadaan sudah dewasa dan dalam suatu ruang yang kosong, dan ia tidak dapat melihat, meraba, mencium dan mendengar. Andaikan selanjutnya, ia tidak dapat meraba atau melihat tubuhnya sendiri bahwa anggota-anggota tubuhnya tidak dapat saling sentuh. Orang itu, tentunya, tidak akan mampu memastikan dirinya. Apa yang dipastikan tidak mungkin serupa dengan apa yang tidak dipastikan. Jadi, kalau ditarik benang merahnya, tangisan kaum syi’ah itu belum tentu suatu aksi yang nonsense atau pun useless. Sebab si penulis, tentunya, menilai sebuah tangisan itu dengan kaca mata sunni, di mana menangis tidak perlu disertai sedu sedan dan suara yang menggerung seperti yang penulis (M. Muhyidin) kutip dari kitab Zad al-Maad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Lihat bab V). Analoginya, kita tidak akan tahu pedasnya cabai kalau kita tak mencobanya, bukannya bertanya pada seseorang yang telah memakannya atau mendengarnya. Seorang Imam Ghazalie pun mendukung seorang al-Hallaj—filsuf muslim yang didekrit kafir oleh para filsuf muslim sendiri dan pemerintah pada zamannya, hingga ia harus mati dibakar oleh pemerintah di zamannya gara-gara ia berbilang; Ana Al-Haq (aku ini yang Hakiki atau Allah)—dalam bukunya Mishkat al-Anwar. Perlu diketahui, opini, asumsi, teroka itu bersifat kebenaran subjektif akan tetapi bagaimana kebenaran subjektif itu membias pada kebenaran objektif (sejati), terkecuali karya Tuhan (Allah SWT) yang maha objektif dan sempurna.
Jadi jelas, teroka dualisme Ibnu Sina patut dijadikan sebuah mikroskop dalam menafsirkan sebuah ‘tangis’. Apalagi menyangkut aksi spiritualisme kaum syi’ah yang tak bisa diklarifikasikan dengan mudahnya, sebagai tangisan sia-sia, mungkin (saja) si penulis berkaca mata yang retak atau tidak patut dipakai. Karena hal ini menyangkut akal, jiwa, hati seseorang. Oleh karenanya si penulis haruslah memerhatikan sebuah teroka objektif, dedikatif, dan bijaksana.
Hemat kata, apapun kelemahan dalam buku itu seyogyanya patut dibaca oleh para muslim sebagai kompas hati-nurani, menguak hakikat “tangis spiritualisme” yang mampu menuntun kita merajut kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup. Sebab menangis itu bukanlah hal terburuk atau momok bagi manusia, selama manusia itu menangis demi Dzatillah atau sang pencipta yang menciptakan kita sebagai makhluk sempurna daripada makhluk lainnya, sebab dengan menangis karena rindu pada-Nya raga-jiwa kita lebih peka terhadap cipta, rasa, karsa yang bersemayam dalam tubuh, pula (bisa) menuntun langkah kita mencapai kebahagian dunia wal akhirat.***

Judul Buku : Tangis Rindu Pada-Mu
Karya : Muhammad Muhyidin
Penyunting : Yadi Saeful Hidayat
Cetakan : I, Januari 2008
Penerbit : PT. Mizan Pustaka, Bandung.
Tebal Buku : 270 halaman.

Rabu, 20 Agustus 2008

Lowongan

Pemilihan Bintang Film Televisi


Ayo buruan, jangan sampai telat, daftarkan diri anda untuk menjadi bintang film, bintang iklan, presenter ataupun model.
Ikuti pemilihan bintang film televisi yang diadakan oleh D’COLOR Management…
Syaratnya:
  • Anak-anak 4-11 tahunRemaja 12-16 tahun
  • Dewasa 17-21 tahun
  • Eksekutif Muda 22-30 tahun
Caranya gampang:
Kirimkan 2 lembar foto terbaru (close up dan seluruh badan) dengan biodata lengkap *(cantumkan juga nama dan pekerjaan orang tua) serta perangko balasan ke;
D’COLOR ARTIS MANAGEMENT
Jln. Pangeran Antasari No. 50 Cilandak-Jakarta 12430 Indonesia
Telp. 021-765 4724 – 021 9127 6933. Fax. 021-7654724
“Tulis JKT2C di Sudut Kiri Atas Amplop”
Paling Lambat 30 September 2008 Cap Pos



untuk keterengan lebih lanjut kunjungi www.colorinc.com
“KOTA DI MATA SISWA”
Lomba Mengarang Kompas 2008 untuk Siswa SMA/SAMK/Sederajat.

Herman Wilhem Daendels, si kutu buku itu ternyata ternyata terinspirasi Cursus Publicus, jasa pengiriman pos dan informasi militer di zaman Romawi Kuno.
Ketika Herman Wilhem Daendels menjadi Gubernur Jendral Wilayah Hindia Timur dan berkedudukan di Jawa pada kurun waktu 14 Januari 1808 hingga 16 Mei 1811, ia membuat kebijakan penting yang kelak menjadi titik tolak perkembangan infrastruktur di jawa hingga kini. Kedua Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) sepanjang kurang 1000 km yang menghubungkan ujung barat dan ujung timur Pulau Jawa.
Jalan Raya Pos (Jalan Raya Daendels) dan sering pula disebut Jalan Raya “94 Anjer-Panaroekan” 94 adalah rute jalan yang kemudian mendorong tetapi juga merongrong pertumbuhan tata kota, dan kultur kota-kota yang dilaluinya. Sisi gelap lainnya adalah sejarah penindasan yang bergelimang vduka derita penduduk karena dipaksa bekerja keras dengan bakal minim sekali.

Tema Lomba:
Dalam rangka mendukung ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya oleh Harian Kompas dan mengembangkan wawasan sejarah serta pemahaman siswa tentang pertumbuhan perkotaan dan perbagai masalahnnya. Harian Kompas menyelenggarakan Lopmba Mengarang untuk Siswa SMA/SMK dan sederajat bertema “Kota Di Mata Siswa”.
Bagaimanapun pertumbuhan sebuah kota, sejumlah kota, atau sebuah kawasan pada jalur Raya Pos atau jalan Anjer-Panaroekan tadi dalam demensi masa lalu, masa kini, dan masa depan menurut siswa SMA/SMK dan sederajat. Bagaiman pula kekecewaan, dambaan, dan jalan keluar yang ditawarkan siswa SMA/SMK dan sederajat atas problem sebuah kota, atau kawasan, pemilihan kota, kawasan yang akan menjadi kajian peserta lomba dibagi dalam 3 wilayah sesuai provinsi lokasi sekolah siswa peserta:
  1. Wilayah Prov. Banten/ Jawa Barat dan Jakarta.
  2. Wilayah Prov. Jawa Tengah.
  3. Wilayah Prov. Jawa Timur.

Bentuk dan Panjang Karangan
  1. Karangan berbentuk esai, merupakan tulisan asli, dan belum pernah dipublikasikan.
  2. Panjang karangan 4000-7000 karakter (belum termasuk halaman nama dan alamat sekolah peserta/bukti diri), spasi rangkap (ganda) dengan huruf Times New Roman dengan font 12.
  3. Karangan disertai nama pengarang, alamat lengkap sekolah dan rumah, serta nomor telepon (sekolah/rumah/handphone) yang mudah dihubungi.
  4. Dewan juri terdiri dari tiga orang wartawan Kompas. Dan keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.
  5. Lima (5) karangan terbaik di tiga wilayah akan dipresentasikan di depan dewan juri tanggal 22 Agustus 2008 di Kantor Biro Kompas Jawa Barat (Bandung), tanggal 23 Agustus 2008 di Kantor Biro Kompas Jateng (Semarang) dan tanggal 24 Agustus 2008 di Kantor Biro Kompas Jatim (Surabaya). Kelima peserta terbaik dari tiga wilayah akan diundang ke kantor biro dan panitia akan mengganti ongkos transport.
Pengiriman Karangan
  1. Karangan dikirimkan ke alamat, atau dikirimkan langsung ke alamat Kantor Redaksi Biro Jakarta (Jln. Palmerah Selatan 26-28 Jakarta), Kantor Redaksi Biro Jawa Barat (Jln. RE Martatadinata no. 46 Bandung), Kantor Redaksi Kompas Biro Jawa Tengah (Jln. Menteri Supeno 35 Semarang), Kantor Redaksi Kompas Biro Jawa Timur (Jln. Raya Jemursari no. 64 Surabaya).
  2. e-mail; anjerpanaroekan@kompas.co.id
  3. batas waktu (deadline) penerimaan karangan kepada Panitia Lomba;
  4. Wilayah I (Banten/Jabara/DKI Jakarta) tanggal 20 Agustus 2008
  5. Wilayah II (Jateng) tanggal 21 Agustus 2008
  6. Wilayah III (Jatim) tanggal 22 Agustus 2008

Pemenang dan Hadiah
Panitia akan menetapkan juara I, II, III di setiap wilayah.
Pengumuman pemenang akan diumumkan di harian Kompas pada tanggal 23 Agustus 2008, yang bertepatan dengan Penutupan Ekspedisi 200 tahun Jalan Pos.
Setiap karangan akan dipublikasikan di masing-masing daerah.
Lima (5) penulis terbaik akan memperoleh sertifikat, voucher belanja buku, dan penggantian uang transpor.
  • Juara I @Rp. 3.000.000
  • Juara II @Rp. 2.000.000
  • Juara III@Rp. 1.000.000
Juga memperoleh sertifikat, voucher belanja buku, masing-masing.
Hadiah bagi juara I, II, III bias diambil di kantor Kompas Biro Wilayah masing-masing.



Keterangan lebih lanjut hubungi;
021-5347710 ( Inge, Jakarta), 022-4234699 (Dewi, Bandung), 024-8454470 (Femi/Juni, Semarang), 031-8481919 (Riska, Surabaya).