Senin, 25 Agustus 2008

Hermeneutika Tangis Spiritual

Pernahkah anda menangis?
Pertanyaan di atas bukanlah semacam pertanyaan yang iseng, jenaka, bodoh atau lelucon akan tetapi sebuah pertanyaan yang bisa dijadikan refleksi personal untuk menguak sebuah ‘tangis’ yang dialami kita, sebagai manusia. Setiap manusia, tentunya, pernah menangis, tanpa terkecuali. Lalu, apakah tangisan yang dialami kita memiliki sense positif atau negatif.
Dalam buku “Tangis Rindu Pada-Mu” karya Muhammad Muhyidin menguak misteri tangis, yang sering dialami manusia, sehingga anda diajak menyelami hakikat tangis dan seluk-beluk air mata, pula mengajak anda belajar menangis dan mengeluarkan air mata dengan tangisan dan air mata yang tidak sia-sia belaka. Dan menangis tidaklah menjadi momok lagi bagi kehidupan manusia.

Mungkin selama ini ketika ada seseorang yang menangis karena duka atau bahagia, dianggapnya tangisan itu adalah bahasa jiwa. Dalam artian, menangis merupakan luapan fisik atau psikis yang terkandung dalam personal—baik itu sadar maupun tidak sadar. Entah itu menangis karena luka yang dideritanya, entah itu ditinggal sang kekasih yang lebih dulu mati. Entah menangis karena lulus ujian negara sebagai PNS, dan banyak lagi faktor-faktor eksternal maupun internal yang menyebabkan manusia menangis.
Dalam bukunya penulis menyeret kita menyelami samudera tangis demi mencapai hakikat tangis yang sesungguhnya. Dari berenang terhadap air mata sampai menyelam pada sumber air mata itu sendiri, dengan kalimatnya yang datar menyodok pembaca untuk tenggelam pada samudera tangis yang bermanfaat bagi manusia, alam dan sang pencipta. Pun, dalil-dalil agama—al-Qur’an dan hadist—, psikologi, mengebakinya di dalam sebagai baju selam bagi pembaca (supaya tidak sia-sia) untuk sampai di dasar samudera tangis demi mendapatkan sebuah mutiara tangis yang tiada tara.
Dari proses penyelaman itu, tentunya, kita akan diajak kepada dunia yang sifatnya spiritual, invisible. Mengasah kepekaan rasa, meluluhkan hati yang seperti batu, dan memuncaratkan air mata dengan mudahnya demi menggapai mahligai kebahagiaan, dunia dan akhirat.
Tangisan Spiritualistik
Seorang pemeran lakon dalam pentas drama memuncratkan air matanya, sebagai akting, sangatlah mudah, atau si buaya darat merengek di depan sang pacar dengan mengharapkan balasan cinta darinya, dan masih banyak lagi macam tangisan seperti itu. Tetapi, semua itu, berbeda dengan menumpahkan air mata karena mengharapkan rahmat Allah SWT bahkan merindukan-Nya—yang spiritualistik. Yakni tangis yang keluar dari jiwa yang tercerahkan. Sebuah tangis yang menafikan humanisme melainkan spiritualisme. Tangis yang bermuasal dari hati nurani, bukan dari letupan emosi. Tangis yang menyelamatkan seorang dari keterpurukan atau jurang mudhorat.
Seperti kita tahu, menangis kadang sulit dilakukan terutama saat hati kita lagi lapang atau bahgia. Barulah, ketika ada bencana, musibah, ujian, mata bisa meneteskan air mata, setetes demi setetes, kalau pun perlu, menangis seraya meronta-ronta. Ataukah hati kita sudah membatu dan buta, lantaran selalu lupa dengan-Nya.
Lalu, bagaimana dengan tangisan orang-orang syi’ah (salah satu aliran islamisme)—menjerit-jerit, seraya mencambuk kulitnya dengan benda tajam sampai-sampai darah bercucuran, demi berharap barokah dari cucu Muhammad SAW—Husain yang dibunuh oleh kaum Quraish—di samping mengharap ridho Ilahi, tepatnya dilakukan di bulan as-syura (muharram). Apakah tangisan semacam itu tergolong tangisan spiritualistik atau tangisan awam yang tak berguna atau sia-sia belaka.
Dalam bukunya, penulis (M. Muhyidin) menafsirkan “tangisan kaum syi’ah” sebagai tangisan awam (tingkat tangisan terendah), tangisan yang tidak bermanfaat, baik psikis maupun fisik, dan lebih banyak mudhoratnya. Bayangkan, darah yang berceceran dari kulit kaum syi’ah dianggap darah suci yang bisa mengantarkannya ke surga, bagi kaum syi’ah.
Sungguh pun, kasus di atas merupakan upaya sebuah tangis yang berbeda, dalam kaca mata penulis (Muh. Muhyidin) yang beralirkan sunni. Di mana kaum syi’ah merupakan kaum yang dinafikan dipelbagai sektarian islamisme (aliran-aliran islam) bahkan sebagian para pemuka islam mengklaimnya kafir atau sesat. Menurutnya, tangisan itu memiliki banyak mudhorat (uselles).
Meminjam teroka Ibnu Sina (Avicenna) dalam konsep dualisme dalam menerangkan hakikat ruh dan tubuh yang dibenturkan terhadap realitas. Yakni, andaikan seorang dilahirkan dalam keadaan sudah dewasa dan dalam suatu ruang yang kosong, dan ia tidak dapat melihat, meraba, mencium dan mendengar. Andaikan selanjutnya, ia tidak dapat meraba atau melihat tubuhnya sendiri bahwa anggota-anggota tubuhnya tidak dapat saling sentuh. Orang itu, tentunya, tidak akan mampu memastikan dirinya. Apa yang dipastikan tidak mungkin serupa dengan apa yang tidak dipastikan. Jadi, kalau ditarik benang merahnya, tangisan kaum syi’ah itu belum tentu suatu aksi yang nonsense atau pun useless. Sebab si penulis, tentunya, menilai sebuah tangisan itu dengan kaca mata sunni, di mana menangis tidak perlu disertai sedu sedan dan suara yang menggerung seperti yang penulis (M. Muhyidin) kutip dari kitab Zad al-Maad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Lihat bab V). Analoginya, kita tidak akan tahu pedasnya cabai kalau kita tak mencobanya, bukannya bertanya pada seseorang yang telah memakannya atau mendengarnya. Seorang Imam Ghazalie pun mendukung seorang al-Hallaj—filsuf muslim yang didekrit kafir oleh para filsuf muslim sendiri dan pemerintah pada zamannya, hingga ia harus mati dibakar oleh pemerintah di zamannya gara-gara ia berbilang; Ana Al-Haq (aku ini yang Hakiki atau Allah)—dalam bukunya Mishkat al-Anwar. Perlu diketahui, opini, asumsi, teroka itu bersifat kebenaran subjektif akan tetapi bagaimana kebenaran subjektif itu membias pada kebenaran objektif (sejati), terkecuali karya Tuhan (Allah SWT) yang maha objektif dan sempurna.
Jadi jelas, teroka dualisme Ibnu Sina patut dijadikan sebuah mikroskop dalam menafsirkan sebuah ‘tangis’. Apalagi menyangkut aksi spiritualisme kaum syi’ah yang tak bisa diklarifikasikan dengan mudahnya, sebagai tangisan sia-sia, mungkin (saja) si penulis berkaca mata yang retak atau tidak patut dipakai. Karena hal ini menyangkut akal, jiwa, hati seseorang. Oleh karenanya si penulis haruslah memerhatikan sebuah teroka objektif, dedikatif, dan bijaksana.
Hemat kata, apapun kelemahan dalam buku itu seyogyanya patut dibaca oleh para muslim sebagai kompas hati-nurani, menguak hakikat “tangis spiritualisme” yang mampu menuntun kita merajut kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup. Sebab menangis itu bukanlah hal terburuk atau momok bagi manusia, selama manusia itu menangis demi Dzatillah atau sang pencipta yang menciptakan kita sebagai makhluk sempurna daripada makhluk lainnya, sebab dengan menangis karena rindu pada-Nya raga-jiwa kita lebih peka terhadap cipta, rasa, karsa yang bersemayam dalam tubuh, pula (bisa) menuntun langkah kita mencapai kebahagian dunia wal akhirat.***

Judul Buku : Tangis Rindu Pada-Mu
Karya : Muhammad Muhyidin
Penyunting : Yadi Saeful Hidayat
Cetakan : I, Januari 2008
Penerbit : PT. Mizan Pustaka, Bandung.
Tebal Buku : 270 halaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar